detikNews
Minggu 04 Agustus 2019, 03:27 WIB

Polisi Hong Kong Tembakkan Gas Air Mata ke Demonstran di Kawasan Wisata

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Polisi Hong Kong Tembakkan Gas Air Mata ke Demonstran di Kawasan Wisata Ilustrasi demonstrasi di Hong Kong (Foto: Ring Yu/HK01 via AP)
Hong Kong - Polisi anti huru-hara Hong Kong berulang kali menembakkan gas air mata pada Sabtu (3/8) malam kepada pengunjuk rasa pro-demokrasi di sebuah kawasan wisata populer. Hal itu terjadi ketika kekerasan sekali lagi meletus di pusat keuangan internasional, meski peringatan keras dari Cina semakin meningkat.

Dikutip dari CNN, Minggu (4/8/2018), pusat keuangan semi-otonom Cina selatan telah menyaksikan protes dan bentrokan selama dua bulan yang dipicu oleh pihak oposisi terhadap Undang-Undang Ekstradisi yang direncanakan. Protes itu dengan cepat berkembang menjadi gerakan yang lebih luas untuk reformasi demokrasi.


Pihak berwenang di Hong Kong dan Beijing pada pekan ini mengisyaratkan sikap keras, termasuk dengan penangkapan puluhan demonstran. Militer Cina mengatakan siap untuk meredakan kerusuhan 'yang tak tertahankan' jika diminta.

Namun, para pengunjuk rasa tetap keras kepala. Mereka bersumpah untuk melakukan banyak hal dan demonstrasi dalam beberapa hari mendatang.

Kekerasan pada hari Sabtu, yang merupakan akhir pekan kesembilan terjadinya bentrokan, terjadi di Tsim Sha Tsui, sebuah kawasan di sisi pelabuhan yang biasanya ramai dan terkenal dengan mal serta hotel mewahnya.

Petugas dengan masker gas dan perisai menuduh ratusan demonstran yang mengepung kantor polisi terdekat.


Para demonstran yang menggunakan topeng telah menghancurkan jendela mobil di tempat parkir polisi dan mengecat dinding di dekatnya dengan coretan. Satu tim pengunjuk rasa menciptakan katapel besar, yang dipegang oleh dua anggota mereka, meluncurkan batu bata ke bangunan kantor polisi.

Polisi menembakkan gas air mata diikuti dengan pukulan tongkat berulang kali serta sejumlah penangkapan. Namun, kebuntuan berlanjut hingga malam hari dengan kelompok-kelompok kecil demonstran yang berusaha menahan diri di balik perisai darurat.

Sebelumnya pada hari itu puluhan ribu pengunjuk rasa berbaris melewati jalan-jalan terdekat dan mengucapkan semboyan mereka 'menjadi air', sebuah filosofi ketidakpastian yang dianut oleh legenda seni bela diri setempat, Bruce Lee. Mereka merebut jalan, membangun barikade, bahkan sempat memblokir terowongan lintas pelabuhan.

"Kami akan bertarung sebagai gerilyawan hari ini dan menjadi air," kata seorang pria berusia 19 tahun, dengan marga Lee, yang bertopeng dan mengenakan helm.
(azr/gbr)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com