detikNews
Kamis 18 Juli 2019, 17:38 WIB

Anak Tak Divaksin Saat Sekolah, Orangtua di Jerman Bisa Didenda Rp 38 Juta

Novi Christiastuti - detikNews
Anak Tak Divaksin Saat Sekolah, Orangtua di Jerman Bisa Didenda Rp 38 Juta Ilustrasi (Thinkstock)
Berlin - Pemerintah Jerman menyatakan dukungan terhadap rancangan undang-undang (RUU) yang mewajibkan semua anak untuk divaksin sebelum mendaftar masuk sekolah atau taman kanak-kanak (TK). Pelanggaran terhadap aturan ini bisa berujung hukuman denda sebesar 2.500 Euro atau setara Rp 38,6 juta bagi orangtua.

Seperti dilansir CNN, Kamis (18/7/2019), meskipun pemerintah telah menyetujuinya, RUU wajib vaksin ini masih harus disetujui oleh parlemen Jerman. Aturan hukum ini secara khusus mengatur soal vaksin campak.

Di bawah aturan hukum ini, setiap orangtua diwajibkan menunjukkan bukti bahwa anak mereka sudah divaksin sebelum mendaftar untuk masuk sekolah. Jika orangtua gagal menunjukkan bukti itu, maka hukuman denda maksimum 2.500 Euro menanti mereka.

"Apakah di Taman Kanak-kanak (TK), di tempat penitipan anak atau di sekolah -- kita ingin melindungi seluruh anak-anak dari infeksi campak," sebut Menteri Kesehatan Jerman, Jens Spahn, dalam pernyataannya.


Aturan hukum ini diajukan saat Jerman dilanda kasus campak tertinggi di Eropa antara Maret 2018 hingga Februari 2019, yakni mencapai 651 kasus. Angka itu didasarkan atas data Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Eropa.

Untuk tahun 2019, Kementerian Kesehatan Jerman menyatakan sekitar 429 kasus campak telah tercatat di Jerman hingga pertengahan Juni lalu. Angka ini menunjukkan bahwa kasus campak semakin mengkhawatirkan di Jerman.

Campak tergolong penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang bisa menyebar lewat udara saat orang yang terinfeksi campak batuk-batuk atau bersin. Penyakit ini juga bisa menular jika seseorang melakukan kontak langsung atau berbagai kuman dengan menyebut objek atau permukaan yang sama. Gejala campak antara lain demam, batuk, hidup beringus, mata berair dan muncul bintik-bintik merah.

Dibutuhkan dua dosis vaksin untuk melindungi diri dari campak. Laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, sekitar 97 persen anak-anak di Jerman telah mendapat vaksin dosis pertama, namun persentasenya menurun untuk dosis kedua menjadi hanya 93 persen. Para ahli menyebut 95 persen dari masyarakat harus divaksin agar lingkungan menjadi kebal dari penyakit.


Munculnya wabah campak dilaporkan meluas di dunia, baik di negara-negara maju seperti di Amerika Serikat dan negara Eropa lainnya, maupun negara berkembang di Asia dan Afrika. Kebanyakan dipicu oleh kekhawatiran tidak beralasan dan kurangnya akses pada vaksin. Sejumlah kajian telah membantah klaim bahwa vaksin campak pada anak bisa memicu autisme.

Di bawah aturan hukum yang nantinya akan diberlakukan di Jerman, setiap orangtua harus menunjukkan sertifikat resmi yang menunjukkan anak-anak mereka telah menerima vaksin dua dosis. Kementerian Kesehatan Jerman menegaskan bahwa setiap anak yang tidak divaksin akan dilarang masuk sekolah dan TK.

WHO mengkategorikan keraguan pada vaksin, baik keengganan maupun penolakan vaksin meskipun vaksin itu tersedia, sebagai salah satu dari 10 ancaman kesehatan global tahun 2019.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed