detikNews
Kamis 11 Juli 2019, 12:31 WIB

Fakta-fakta Pembantaian di PNG yang Tewaskan Wanita Hamil dan Anak-anak

Rita Uli Hutapea - detikNews
Fakta-fakta Pembantaian di PNG yang Tewaskan Wanita Hamil dan Anak-anak Foto: ABC
Port Moresby - Sedikitnya 24 orang telah tewas akibat pembantaian etnis yang terjadi di Papua Nugini (PNG). Berikut lima fakta mengenai perang antarsuku yang terjadi di dataran tinggi berbahaya dan terpencil tersebut.

Apa yang terjadi?

Rincian peristiwa masih berdatangan dari daerah terpencil tempat kejadian, tapi sudah diketahui bahwa kekerasan yang terjadi adalah rangkaian saling membalas serangan dalam beberapa hari terakhir.

Menurut saksi-saksi mata dan media lokal seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (11/7/2019), enam orang diserang dan dibunuh pada 6 Juli lalu. Keesokan harinya, pria-pria bersenjata masuk ke desa Karida di provinsi Hela dan membunuh 18 orang termasuk dua perempuan yang sedang hamil dan anak-anak. Kelompok bersenjata tersebut menggunakan senjata api, pisau dalam serangan mereka. Sejumlah korban dimutilasi.

Siapa yang melakukan?

Polisi masih menyelidiki pembantaian ini. Namun Perdana Menteri PNG James Marape, yang berasal dari daerah itu, mengatakan pembunuhan ini dipimpin oleh pria-pria bersenjata dari suku Hagui, Okiru dan Liwi yang telah lama berperang dengan suku Tagali. Marape menegaskan akan menghukum orang-orang yang bertanggung jawab atas peristiwa ini.


Mengapa mereka berperang?

Papua Nugini sangat beragam, dengan lebih dari 800 bahasa, identitas kesukuan yang kuat dan pemerintah pusat yang sering kali sekunder dari pengadilan dan adat setempat. Populasi telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam setengah abad terakhir, sehingga menggencarkan persaingan untuk tanah dan sumber daya.

Kekerasan terbaru ini disebut terkait dengan kendali Gunung Kare di dekatnya, yang diyakini memiliki kandungan emas tingkat tinggi.

Apakah kekerasan ini biasa terjadi?

Korban jiwa sulit didapat datanya, namun perang suku telah dilaporkan terjadi jauh sebelum orang-orang Barat pertama kali mendatangi wilayah-wilayah daratan tinggi pada tahun 1930-an silam. Beberapa warga lansia dataran tinggi mengaku telah ikut serta dalam pertempuran dengan tombak, panah, dan kapak selama hidup mereka.

Pemandangan tersebut memang lebih jarang sekarang, namun kekerasan masih terjadi dan ada beberapa bukti bahwa bentrokan itu mungkin semakin mematikan. Dilaporkan bahwa senjata-senjata api seperti senapan serbu M16, AR-15 buatan Amerika dan FN buatan Belgia telah masuk ke wilayah tersebut.


Di mana pembantaian ini terjadi?

Serangan terbaru terjadi di desa Karida di provinsi Hela, bagian dari wilayah daratan tinggi bagian tengah. Daerah ini sangat terjal, dengan hutan-hutan yang lebat dan hanya sedikit jalan atau sungai yang bisa dilayari.

Menurut Palang Merah Internasional, perang antarsuku tersebut menewaskan puluhan orang dan menyebabkan ribuan orang mengungsi setiap tahunnya. Papua Nugini memiliki tingkat kejahatan yang tinggi dan ketidakpercayaan terhadap polisi yang marak. Banyak orang beralih ke perusahaan keamanan swasta sebelum ke polisi, khususnya di ibu kota Port Moresby -- yang termasuk sebagai salah satu kota paling berbahaya di dunia.

Simak Video "TNI Temukan Ladang Ganja di Perbatasan Papua Nugini"
[Gambas:Video 20detik]

(ita/ita)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com