detikNews
Selasa 09 Juli 2019, 11:33 WIB

Pemimpin Hong Kong Tegaskan RUU Ekstradisi Telah Mati

Novi Christiastuti - detikNews
Pemimpin Hong Kong Tegaskan RUU Ekstradisi Telah Mati Carrie Lam (REUTERS/Tyrone Siu)
Hong Kong - Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, mengumumkan bahwa rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi yang dikritik banyak pihak 'sudah mati'. Namun dia tidak menegaskan apakah ini memenuhi tuntutan demonstran yang meminta pencabutan segera RUU itu dari pembahasan di Dewan Legislatif Hong Kong.

"Masih ada keraguan yang belum hilang soal ketulusan pemerintah ataupun kekhawatiran (soal) apakah pemerintah akan memulai kembali prosesnya dengan Dewan Legislatif," ucap Lam dalam konferensi pers terbaru di Hong Kong, seperti dilansir AFP, Selasa (9/7/2019).

"Jadi saya tegaskan di sini, tidak ada rencana semacam itu. RUU itu sudah mati," tegas Lam.

Unjuk rasa besar-besaran yang digelar di Hong Kong beberapa pekan terakhir dipicu oleh RUU kontroversial, yang akan mengizinkan orang-orang di Hong Kong yang terjerat pidana untuk diekstradisi ke dataran utama China untuk disidang.


Semakin lama, unjuk rasa yang dicetuskan oleh kelompok muda Hong Kong ini meluas menjadi pergerakan menyerukan reformasi demokratis.

Kemarahan publik memuncak terhadap Lam yang dikenal pro-China. Terlebih dia sebelumnya hanya mengumumkan penangguhan pembahasan RUU ekstradisi di Dewan Legislatif, namun tidak mencabutnya secara menyeluruh.

Publik juga marah terhadap Kepolisian Hong Kong yang dianggap menggunakan kekerasan berlebihan dalam menangani para demonstran. Dengan situasi Hong Kong yang diselimuti aksi protes terus-menerus, Lam hanya beberapa kali muncul di hadapan publik.

Pada Selasa (9/7) waktu setempat, Lam muncul ke publik untuk menggelar konferensi pers. Dalam pernyataannya, dia menyebut upaya pemerintahannya untuk mengajukan RUU ekstradisi sebagai 'kegagalan total'.


Lam lantas mendorong publik untuk memberikan kesempatan pada dirinya dan pemerintahannya untuk menyelesaikan masalah ini. Dia mengakui bahwa Hong Kong tengah menghadapi banyak tantangan.

"Saya sampai pada kesimpulan bahwa ada beberapa persoalan mendasar dan mendalam dalam masyarakat Hong Kong. Itu bisa persoalan ekonomi, itu bisa masalah mata pencaharian, itu bisa pemecah-belahan politik dalam masyarakat," ucapnya.

"Jadi hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengidentifikasi masalah mendasar dan berharap bisa menemukan solusi untuk maju ke depan," cetus Lam.

Namun dalam pernyataannya ini, Lam menghindar untuk membahas tuntutan para demonstran, khususnya seruan agar seorang hakim independen memimpin komisi khusus yang menyelidiki taktik kepolisian. Disebutkan Lam bahwa pihak kepolisian tengah melakukan penyelidikan sendiri atas hal itu, sesuai dengan mekanisme pengaduan yang saat ini berlaku di Hong Kong.


Diketahui bahwa Lam yang sebelumnya menangguhkan pembahasan RUU ekstradisi, telah menyatakan bahwa pemerintahannya tidak punya rencana untuk kembali mengajukan RUU ekstradisi ke Dewan Legislatif (LegCo) Hong Kong.

Namun para demonstran masih tidak mempercayainya dan meminta agar Lam secara tegas mencabut RUU itu dari agenda parlemen. Terkait hal ini, Lam mengatakan bahwa para demonstran tetap tidak akan mempercayai dirinya meskipun dia memakai kata 'mencabut'.

"Pada tahap ini, jika RUU itu dicabut hari ini, itu bisa diajukan kembali ke LegCo tiga bulan kemudian. Tapi mungkin warga ingin mendengar pernyataan yang sangat tegas dan meyakinkan. Jadi 'RUU sudah mati' adalah pernyataan yang cukup tegas," tandasnya.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed