detikNews
Jumat 28 Juni 2019, 09:15 WIB

Duh! Keguguran Usai Tertembak, Wanita AS Malah Didakwa Pembunuhan

Novi Christiastuti - detikNews
Duh! Keguguran Usai Tertembak, Wanita AS Malah Didakwa Pembunuhan Marshae Jones (Jefferson County Jail/Handout via REUTERS)
Alabama - Seorang wanita di Alabama, Amerika Serikat (AS) ditangkap dan dijerat dakwaan pembunuhan atas kematian janinnya, setelah dia mengalami keguguran karena tertembak. Dakwaan ini menuai kecaman dari kelompok-kelompok HAM setempat.

Seperti dilansir AFP, Jumat (28/6/2019), wanita bernama Marshae Jones (27) ini terkena lima tembakan saat berkelahi dengan seorang wanita lainnya pada Desember lalu. Pertengkaran itu terjadi saat Jones sedang hamil. Luka-luka akibat tembakan itu membuat Jones kehilangan bayi yang dikandungnya.

Wanita yang menembak Jones awalnya didakwa otoritas setempat, namun jaksa kemudian menggugurkan dakwaan itu dan malah menjeratkan dakwaan pembunuhan terhadap Jones. Dia ditangkap pada Rabu (26/6) waktu setempat.

"Marshae Jones didakwa atas pembunuhan karena kehilangan kehamilannya setelah tertembak di perut sebanyak lima kali. Penembaknya tetap bebas. Kita akan mengeluarkan Marshae dari penjara," sebut kelompok HAM setempat, The Yellowhammer Fund, dalam pernyataannya.


The Yellohammer Fund merupakan kelompok berbasis di Alabama yang kerap memberikan bantuan finansial untuk orang-orang yang ingin aborsi.

Kasus Jones ini mencuat di tengah ketegangan soal aturan hukum yang baru diloloskan di Alabama, yang melarang aborsi dalam semua kasus termasuk dalam kasus pemerkosaan atau inses. Aturan hukum Alabama menyamakan aborsi dengan pembunuhan.

"Penyelidikan menunjukkan bahwa satu-satunya korban dalam kasus ini adalah bayi yang belum lahir," sebut Letnan Polisi Danny Reid dari Kepolisian Pleasant Grove, yang menjadi lokasi penembakan.

"Ibunda sang bayi yang memulai dan melanjutkan perkelahian yang berujung kematian bayinya yang belum lahir," imbuhnya.


Aturan hukum soal larangan aborsi di Alabama itu kemungkinan akan diblokir di pengadilan, karena dianggap bertentangan dengan putusan Mahkamah Agung AS tahun 1973 dalam kasus Roe v Wade yang melegalisasi aborsi.

Dalam pernyataan terpisah, Federasi Aborsi Nasional (NAF) yang mendukung akses pada aborsi, menyebut kasus Jones ini menjadi salah satu dari sekian banyak kasus di mana wanita yang keguguran karena situasi tidak menguntungkan seperti overdosis obat dan kecelakaan mobil, malah diadili.

"Beginilah orang-orang -- khususnya wanita kulit berwarna -- yang dihukum dan kehamilannya dikriminalisasi," sebut NAF dalam pernyataannya, merujuk pada Jones yang berkulit hitam.



Simak Video "Setelah Tiga Tahun Renovasi, Monumen Washington Kembali Dibuka"
[Gambas:Video 20detik]

(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com