Di Balik Keputusan Trump Batalkan Serangan Militer ke Iran

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 22 Jun 2019 19:25 WIB
Donald Trump (REUTERS/Carlos Barria)
Washington DC - Suasana di dalam Situation Room, Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat (AS) dipenuhi ketegangan saat Presiden AS Donald Trump menyetujui rencana serangan ke Iran sebelum kemudian membatalkannya di menit-menit akhir. Salah satu anggota parlemen AS menyebut Trump terlihat 'menderita' saat itu.

Seperti dilansir CNN, Sabtu (22/6/2019), sejumlah anggota parlemen AS ikut hadir di Situation Room saat rapat pengambilan keputusan untuk serangan militer ke Iran digelar pada Kamis (20/6) waktu setempat. Serangan itu dimaksudkan sebagai balasan atas aksi Iran menembak jatuh drone militer AS, Global Hawk RQ-4.

Sebagai 'commander-in-chief' atau panglima tertinggi AS, Trump saat itu harus mengambil keputusan berat yang bisa berdampak sangat besar.


Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri Senat AS, James Risch, menyebut Trump saat itu tampak fokus 'menggali' perspektif dan argumen berbeda yang disampaikan oleh para anggota parlemen juga penasihat-penasihat keamanannya. Namun satu hal yang pasti, sebut Risch, Trump adalah presiden yang 'tidak ingin berperang'.

"Saya sungguh-sungguh melihatnya menderita atas semua ini. Semuanya (keputusan) mengerucut pada satu pria," sebut Senator Idaho dari Partai Republik ini kepada sekelompok kecil wartawan saat menceritakan momen yang disaksikannya di dalam Situation Room.

"Presiden sungguh bergumul atas ini," timpal Ketua Komisi Angkatan Bersenjata House of Representatives (HOR) AS, Adam Smith, dari Partai Demokrat.


Dilema yang dirasakan Trump berhadapan dengan tim keamanan nasionalnya yang nyaris sepenuhnya meyakini AS harus membalas Iran yang menembak jatuh drone militer AS di Selat Hormuz. Serangan militer via udara terhadap sejumlah target Iran diyakini sebagai balasan yang pantas oleh tim keamanan nasional Trump.

Trump Dengarkan Banyak Argumen dan Pendapat

Laporan CNN menyebut Trump tak hanya mendengar pendapat tim penasihat keamanan nasionalnya, saat dirinya mempertimbangkan opsi-opsi yang ada. Trump juga berbicara dengan penasihat-penasihat di luar Gedung Putih juga anggota-anggota parlemen AS yang ramah dengannya. Para anggota parlemen AS, sebut CNN, terus mengingatkan Trump akan janjinya untuk mengeluarkan AS dari perang tak berkesudahan di Timur Tengah dan mendorongnya tetap menahan diri.

Namun saat Trump berhadapan dengan waktu pengambilan keputusan, dia sekali lagi dikelilingi oleh para penasihat keamanan yang ditunjuknya sendiri, yang mendorong posisi garis keras terhadap Iran, mulai dari menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran hingga memberlakukan kembali sanksi-sanksi terhadap Iran.

Opsi yang diberikan kepada Trump saat itu adalah: serangan udara terhadap tiga target militer Iran yang terdiri atas sejumlah radar dan baterai rudal. Serangan itu rencananya akan dilakukan pada Jumat (21/6) subuh waktu Iran atau Kamis (20/6) malam waktu AS.
Selanjutnya
Halaman
1 2