DetikNews
Jumat 17 Mei 2019, 15:24 WIB

Arab Saudi Tuduh Iran Perintahkan Serangan Drone ke Fasilitas Minyaknya

Novi Christiastuti - detikNews
Arab Saudi Tuduh Iran Perintahkan Serangan Drone ke Fasilitas Minyaknya Ilustrasi (Dok. REUTERS/Murad Sezer)
Riyadh - Arab Saudi menuduh Iran ada di balik serangan drone terhadap dua fasilitas pemompaan minyak miliknya beberapa hari lalu. Menurut Saudi, Iran menjadi pihak yang memerintahkan serangan drone yang diklaim oleh pemberontak Houthi di Yaman itu.

"Serangan oleh milisi Houthi yang didukung Iran terhadap dua stasiun pemompaan Aramco membuktikan bahwa milisi ini hanyalah alat yang digunakan rezim Iran untuk menjalankan agenda ekspansionis di kawasan," sebut Wakil Menteri Pertahanan Saudi, Pangeran Khalid bin Salman, seperti dilansir AFP, Jumat (17/5/2019).

"Aksi teroris, yang diperintahkan oleh rezim di Teheran, dan dilakukan oleh Houthi, semakin mempersulit situasi di tengah upaya-upaya politik yang tengah berlangsung," ucap Pangeran Khalid, yang merupakan adik dari Putra Mahkota Saudi Pangeran Mohammed bin Salman yang menjabat Menteri Pertahanan Saudi.

Sejumlah pesawat perang dari koalisi pimpinan Saudi menyerang target-target Houthi di Sanaa, Yaman pada Kamis (16/5) waktu setempat. Gempuran terhadap Houthi itu dilancarkan sekitar dua hari setelah Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan drone yang memaksa Saudi menutup pipa minyak utama mereka.


Dalam pernyataan pada Selasa (14/5) lalu, Houthi menyebut serangan drone itu merupakan respons atas 'kejahatan' yang dilakukan Saudi dalam konflik di Yaman, yang berulang kali dikritik oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan kelompok-kelompok HAM.

Menteri Luar Negeri Saudi, Adel al-Jubeir, dalam pernyataan via Twitter menyebut Houthi telah 'mengorbankan kepentingan rakyat Yaman demi keuntungan Iran'.

"Houthi menjadi bagian tak terpisahkan dari Korps Garda Revolusi Iran (IRDC)... dan tunduk pada perintah IRGC. Ini dikonfirmasikan oleh tindakan Houthi yang menargetkan fasilitas di kerajaan (Saudi) ini," ujar Al-Jubeir.

Diketahui bahwa koalisi pimpinan Saudi melakukan intervensi dalam konflik di Yaman sejak Maret 2015, dengan tujuan mengusir Houthi yang menguasai ibu kota Sanaa dan dan mengembalikan kekuasaan Presiden Abedrabbo Mansour Hadi.


Sejak saat itu, konflik di Yaman ini telah menewaskan puluhan ribu orang yang kebanyakan warga sipil. PBB telah menyebut apa yang terjadi dalam konflik di Yaman sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia, dengan 24,1 juta orang -- lebih dari dua pertiga populasi Yaman -- membutuhkan bantuan kemanusiaan.


(nvc/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed