Provinsi KwaZulu-Natal, tempat di mana sebagian besar jenazah ditemukan, telah mengalami hujan lebat setiap tahunnya. Namun, kondisi tersebut jarang menelan banyak korban jiwa dalam waktu yang sangat singkat.
Beberapa daerah yang paling parah adalah permukiman informal di KwaZulu-Natal, di mana orang tinggal di rumah-rumah tipis tanpa fondasi atau sistem drainase yang tepat. Sedikitnya 67 orang tewas di KwaZulu-Natal, dan enam lainnya di provinsi Eastern Cape.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang wartawan Reuters melihat tim penyelamat datang untuk mengevakuasi jenazah seorang perempuan yang telah digali keluar dari lumpur oleh penduduk setempat. Perempuan itu disebut sedang dalam perjalanan menuju tempat kerja, meskipun putrinya dan cucunya memprotes bahwa dia harus tinggal di dalam rumah.
Perempuan itu tersapu banjir bersama kedua anaknya. Namun, kedua anaknya dapat diselamatkan. "Jelas dia sudah mati," kata saudara perempuan korban.
Penduduk setempat menceritakan bagaimana air banjir dan tanah longsor menerjang rumah-rumah, banyak dengan orang-orang di dalamnya, dan menghancurkan jalan dan infrastruktur lainnya pada Rabu (24/4) lalu.
Lebih dari 100 milimeter hujan tercatat jatuh di beberapa wilayah pada Senin pagi dan Selasa. Peramal cuaca senior di South African Weather Service mengatakan angka kematian yang tinggi sebagai gantinya bisa dijelaskan oleh banjir dan tanah longsor yang terjadi di daerah yang lebih padat penduduknya.
"Karenanya korban tewas adalah seperti sekarang ini," katanya.
Tonton Juga '50 Orang Tewas Usai Hujan Deras di Afrika Selatan':
(mae/zap)










































