DetikNews
Selasa 19 Maret 2019, 12:07 WIB

Pria Turki Jadi Tersangka Penembakan di Utrecht, Ini Kata Ayahnya

Rita Uli Hutapea - detikNews
Pria Turki Jadi Tersangka Penembakan di Utrecht, Ini Kata Ayahnya Foto: Reuters
Ankara - Seorang pria kelahiran Turki disebut sebagai tersangka pelaku penembakan di kota Utrecht, Belanda. Ayah pria itu menegaskan bahwa putranya harus dihukum jika terbukti bersalah.

"Jika dia melakukan itu, dia harus dihukum," kata Mehmet Tanis seperti dikutip kantor berita DHA dan dilansir AFP, Selasa (19/3/2019). Dia merupakan ayah dari Gokmen Tanis yang disebut sebagai tersangka pelaku penembakan di dalam trem di Utrecht pada Senin (18/3) waktu setempat.

Kepolisian Belanda menangkap Gokmen yang berkewarganegaraan ganda Turki-Belanda setelah merilis fotonya usai penembakan di Utrecht yang menewaskan tiga orang dan melukai lima orang lainnya. Media-media melaporkan bahwa keluarga Gokmen berasal dari Yozgat, Turki tengah.



Mehmet Tanis mengatakan, dirinya kehilangan kontak dengan putranya tersebut setelah dirinya kembali ke Turki pada tahun 2008 usai bercerai dari istrinya. Mantan istrinya tetap tinggal di Belanda bersama Gokmen.

Mehmet Tanis menuturkan, dirinya telah menikah lagi dan kini bermukim di provinsi Kayseri, Turki tengah.

"Saya tak ada dialog, tak ada kontak dengan putra saya selama 11 tahun. Kami tak pernah berbicara satu sama lain sejak 2008," ujar Mehmet Tanis kepada DHA.

"Dia tidak punya perilaku agresif -- namun 11 tahun telah berlalu. Apa yang terjadi, apa yang telah dialaminya? Saya tidak tahu apa-apa," tandasnya.


Insiden penembakan di Utrecht, yang terjadi hanya beberapa hari setelah penembakan massal di dua masjid di Selandia Baru yang menewaskan 50 orang, mendorong pihak berwenang setempat memperketat pengamanan di seluruh negeri. Pengamanan yang diperketat meliputi sekolah, masjid, terminal dan gedung-gedung pemerintah.

Seorang pengusaha setempat kepada BBC mengatakan Tanis pernah bergabung dengan kelompok bersenjata di Chechnya. Di kawasan ini ada beberapa kelompok radikal, beberapa di antaranya menyatakan berafiliasi dengan kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS).
(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed