detikNews
Selasa 12 Maret 2019, 20:39 WIB

Derita Warga Venezuela dalam Gelap Gulita

Tim detikcom - detikNews
Derita Warga Venezuela dalam Gelap Gulita Penjarahan toko dan mati lampu di Venezuela (Foto: Dok. Reuters)
Caracas - Penderitaan warga Venezuela karena krisis berkepanjangan seolah tak kunjung usai. Makan susah, air langka, hingga pemadaman listrik seakan jadi pelengkap penderitaan mereka.

Lima hari sudah pemadaman listrik dilakukan di Venezuela sejak. BBC melaporkan, Selasa (12/3/2019), kelompok oposisi menyebut sebanyak 17 warga meninggal dampak dari pemadaman yang dilakukan. Tak dijelaskan lebih jauh apa sebabnya.

Namun, bisa dibayangkan tanpa internet, telepon seluler, bank, mesin kartu kredit, kompor elektrik atau pendingin ruangan, kehidupan sehari-hari hampir tidak tertahankan bagi banyak orang, terutama di komunitas berpendapatan rendah.


Setiap jam yang berlalu tanpa listrik di Venezuela membawa lebih banyak kekacauan dan stres pada negeri yang sudah berada di 'ambang batas'.

Menurut BBC, tak ada gambaran jelas mengenai data pemadaman listrik ini. Hanya saja dipastikan bahwa sekolah-sekolah dan toko-toko terpaksa ditutup karena listrik padam ini. Listrik kadang menyala, namun hanya beberapa jam padam lagi.

'Colectivos', geng motor yang pro pemerintah berkeliaran di jalan-jalan gelap. Mereka menodongkan pistol dengan dalih ketertiban. Sementara itu beberapa peristiwa penjarahan terjadi secara sporadis di tengah-tengah keputusasaan.

"Saya punya anak usia dua tahun. Kemarin sore tidak ada yang bisa dimakan," kata Majorie, seorang warga yang tampak marah di luar sebuah toserba di kompleks Terrazas del Club Hpico di Caracas.

Derita Warga Venezuela dalam Gelap GulitaSulitnya mencari air di Venezuela (Foto: Dok. REUTERS/Carlos Garcia Rawlins)
Sebuah toko di dekat rumahnya dijarah, katanya, dan seorang tetangga memberinya sedikit beras.

"Saya merebusnya, menambah sedikit gula, dan memberinya kepada anak saya. Tapi hari ini, ketika ia minta makan, apa yang akan saya kasih? Saya bisa menahan lapar. Sebagai orang dewasa, kita hanya butuh segelas air. Tapi bagaimana dengan anak-anak?" ujar Majorie.


Di belakang kami, ketika kami berbicara, sekelompok ibu yang juga putus asa dan tertekan, mulai memukul-mukul pintu toserba yang tutup, menuntut agar diizinkan masuk.

Di dalam, kasir dan mesin kartu tidak berfungsi dan staf hanya menerima pembayaran dalam dolar AS.

"Kami tidak menggunakan dolar di negara ini, kami tidak dibayar dengan dolar, kami dibayar dengan Bolivar," kata Majorie, suaranya meninggi lagi.

"Kami tidak mau menjarah toko, kami tidak mau membuat masalah. Yang kami mau adalah makanan. Kami lapar."

Derita Warga Venezuela dalam Gelap GulitaSeorang pegawai toserba meninjau kerusakan di sebuah toko yang dijarah di Caracas. (Foto: Dok. Reuters)
Bagi orang lain, masalahnya lebih genting daripada kekurangan makanan. Tapi soal pelayanan kesehatan. Antara hidup dan mati.

Patricia (bukan nama asli) seseorang yang bekerja sebagai teknisi lab di sebuah rumah sakit anak di Caracas, berbicara kepada BBC, dan mengungkapkan dampak pemadaman listrik terhadap para pasien.

"Pada hari Kamis, tidak ada yang tahu kenapa generator darurat tidak menyala, apa yang terjadi, atau kenapa semuanya masih gelap di unit perawatan intensif," ujar Patricia.

Derita Warga Venezuela dalam Gelap GulitaFoto: Dok. Reuters
Ada bayi yang baru berusia beberapa hari di unit neonatal dan bayi lainnya yang berusia beberapa bulan di unit 'perawatan menengah'.

"Ketika kami berjalan melalui bangsal itu, kami melihat seorang ibu menangis dan kami mendapati bahwa salah satu bayi di unit perawatan menengah telah meninggal dunia," Patricia menjelaskan.

Meski staf medis telah melakukan yang terbaik, salah satu bayi yang baru lahir di bangsal neonatal juga meninggal dunia pada malam pertama itu.

AS Menarik Seluruh Diplomat

Di bidang diplomasi, Amerika Serikat (AS) memutuskan akan menarik seluruh diplomatnya di Venezuela. Hal tersebut lantaran keadaan Venezuela yang dianggap semakin memburuk.

"AS akan menarik semua personel yang tersisa dari @usembassyve minggu ini. Keputusan ini mencerminkan situasi yang memburuk di #Venezuela serta kesimpulan bahwa kehadiran staf diplomatik AS di kedutaan telah menjadi kendala pada kebijakan AS," cuit Menlu AS Mike Pompeo.

Derita Warga Venezuela dalam Gelap GulitaMenlu AS Mike Pompeo (Foto: Dok. Andrew Harnik/Pool via REUTERS/File Photo)
Belum diketahui ada berapa orang diplomat yang ditarik dari kantor kedutaan AS di Caracas dan kapan waktunya. Presiden Donald Trump juga belum menyampaikan pernyataan terkait hal ini.

Terkait krisis di Venezuela, pemerintah Venezuela telah melarang masuk ratusan ton bantuan kemanusiaan dari berbagai negara, tapi ternyata tidak semua bantuan internasional ditolak.


BBC melaporkan, truk-truk yang berisi pasokan bantuan dari Amerika Serikat, Brasil, dan Kolombia dilarang masuk ke wilayah Venezuela.

AS, yang mendukung pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido, mengatakan mereka menawarkan bantuan kemanusiaan sebesar $20m atau setara dengan Rp 282 miliar.

Presiden Maduro menyangkal terjadinya krisis kemanusiaan dan mengatakan upaya bantuan yang dipimpin AS adalah bagian dari rencana untuk mengganggu pemerintahannya.
(rna/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed