detikNews
Rabu 13 Februari 2019, 14:33 WIB

Skandal Kekerasan Seks Anak Guncang Gereja Southern Baptist di AS

Novi Christiastuti - detikNews
Skandal Kekerasan Seks Anak Guncang Gereja Southern Baptist di AS Ilustrasi (BBC Magazine)
Texas - Gereja Kristen Protestan terbesar di Amerika Serikat (AS), Southern Baptist Convention, diguncang skandal kekerasan seksual. Laporan media-media lokal AS mengungkap ratusan pemimpin dan relawan gereja dituduh melakukan kekerasan seksual anak sejak tahun 1998 lalu.

Seperti dilansir AFP, Rabu (13/2/2019), laporan investigatif dua surat kabar Texas, Houston Chronicle dan San Antonio Express-News, mengungkapkan bahwa 380 pemimpin gereja dan relawan gereja menghadapi tuduhan publik atas kekerasan seksual sejak tahun 1998. Dilaporkan jumlah korban mencapai lebih dari 700 anak-anak, dengan usia paling muda dilaporkan tiga tahun. Beberapa orang yang dituduh atas kekerasan seksual itu diketahui masih terus bertugas di gereja.

Menanggapi laporan itu, sejumlah pejabat gereja mengakui bahwa jumlah korban sebenarnya jauh lebih banyak. Mereka bahkan mendorong para korban lainnya untuk berani melapor.

"Salah satu hal yang mendorong saya adalah jumlah pendeta yang secara aktif terlibat saat ini," ujar salah satu pemimpin Southern Baptist Convention, Russell Moore, kepada AFP.


Skandal ini mengguncang Southern Baptist Convention sama seperti skandal pelecehan seksual pastor yang mengguncang Gereja Katolik Roma. Southern Baptist Convention merupakan denominasi Kristen yang memiliki 47 ribu gereja dan 15 juta jemaat tersebar di kebanyakan wilayah selatan AS. Denominasi Kristen merupakan sebutan untuk suatu kelompok keagamaan yang dapat diidentifikasikan di bawah satu nama, struktur, dan doktrin.

"Sebagai sebuah denominasi, sekarang waktunya untuk berkabung dan bertobat. Perubahan akan datang. Perubahan harus terjadi," tegas Presiden Southern Baptist Convention, JD Greear, via akun Twitter-nya. Tanggapan lebih menyeluruh kemungkinan akan disampaikan Greear saat menghadiri pertemuan organisasi gereja pekan depan.

Berbeda dari Vatikan, Southern Baptist Convention memiliki jaringan gereja yang terlepas dan dibiarkan berjalan secara otonomi. Setiap jaringan gereja bisa menahbiskan sendiri pemimpin dan pejabat gereja, yang tidak diwajibkan selibat, dan bisa mempekerjakan staf serta relawan berdasarkan standar masing-masing gereja.

Menurut laporan dua surat kabar Texas yang pertama melaporkan skandal ini, sistem desentralisasi ini, yang memiliki kekurangan dalam sistem database rekam jejak pribadi, seringkali dimanfaatkan oleh para pelaku kekerasan seksual.


Kedua surat kabar itu melaporkan bahwa terhadap ratusan kasus kekerasan seksual yang terjadi, para pemimpin gereja sebelumnya diduga menutup-nutupi atau tidak menindaklanjuti laporan secara benar.

Kurangnya pengawasan membuat para pelaku kekerasan seksual yang sudah divonis pidana -- bahkan pelaku kejahatan seksual terdaftar -- bisa melanjutkan bekerja di gereja-gereja jaringan Southern Baptist Convention. Laporan Houston Chronicle dan San Antonio Express-News menyebut ada sekitar 220 pelaku kekerasan seksual yang telah divonis atau diadili.

"Dalam denominasi ini, setiap kongregasi mengelola urusannya sendiri. Tidak ada uskup. Tidak ada pengawas. Tapi gereja-gereja bisa memutuskan dengan siapa akan memberikan keanggotaan. Tidak ada satu pun yang bisa memanfaatkan otonomi gereja sebagai dalih," sebut Moore.

Dalam sedikitnya 35 kasus, para pelaku kekerasan seksual mampu meninggalkan satu gereja dan mendapatkan pekerja baru di gereja lainnya dalam jangka waktu dua dekade terakhir. Bahkan dalam beberapa kasus, kongregasi mengetahui soal tindakan tidak pantas si pelaku di masa lalu.


Sebagai contoh, pendeta Leslie Mason di Illinois yang dinyatakan bersalah atas dua dakwaan kekerasan seksual tahun 2003 lalu. Setelah bebas dari penjara, Mason masih bisa memimpin gereja lainnya.

Moore menyebut sejumlah gereja memegang teguh pandangan mengampuni, dengan berasumsi 'para predator ini seharusnya diberi kesempatan kedua'. Beberapa kalangan gereja juga meyakini kriminal mengerikan semacam ini tidak mungkin terjadi di wilayah mereka. Tahun 2007 lalu, sebut Moore, Southern Baptist Convention menolak proposal untuk mendata dan melacak para pelaku kekerasan seks demi mencegah mereka dipekerjakan kembali di gereja lain.


(nvc/ita)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com