Soal Kejahatan Seks Pastor, Biarawati AS Serukan Perubahan di Gereja

Rita Uli Hutapea - detikNews
Jumat, 08 Feb 2019 12:02 WIB
Foto: Australia Plus ABC
Foto: Australia Plus ABC
Washington - Badan biarawati terbesar di Amerika Serikat menyerukan adanya perubahan dalam struktur Gereja Katolik yang didominasi kaum pria. Seruan ini disampaikan setelah Paus Fransiskus untuk pertama kalinya, mengakui secara terbuka bahwa sejumlah pastor telah melakukan kejahatan seksual terhadap biarawati.

Dalam statemen publik yang dirilisnya, badan Leadership Conference of Women Religious (LCWR) tersebut menyerukan gereja untuk memperbaiki masalah pelecehan seksual oleh para rohaniwan.

"Pengungkapan tingkat pelecehan menunjukkan dengan jelas bahwa struktur saat ini harus berubah jika gereja ingin mendapatkan kembali kredibilitas moralnya dan memiliki masa depan yang layak," demikian pernyataan LCWR seperti dilansir media Anadolu Agency, Jumat (8/2/2019).



LCWR mewakili sekitar 80 persen biarawati di Amerika Serikat. Dalam statemennya, organisasi ini menawarkan dua perubahan struktural, yakni menciptakan mekanisme di mana korban bisa melaporkan pelecehan dalam lingkungan yang aman, dan mereorganisasi struktur kepemimpinan sehingga tidak semua kekuasaan diberikan kepada pastor.

Sebelumnya, Paus Fransiskus mengakui adanya kasus-kasus pelecehan seksual yang dilakukan pastor-pastor terhadap sejumlah biarawati. Bahkan dalam satu kasus, beberapa biarawati dijadikan budak seks.

Pernyataan Paus Fransiskus ini mengemuka dalam kunjungannya ke Timur Tengah. Menurutnya, pihak gereja mengetahui kasus-kasus ini dan tengah "berupaya mengatasinya". Pernyataan itu merupakan pertama kalinya seorang Paus mengakui adanya kasus kejahatan seksual oleh pastor terhadap para biarawati.


Bulan lalu, organisasi kesusteran dunia yang bernaung di bawah Gereja Katolik mengecam "budaya bungkam dan kerahasiaan" yang mencegah mereka berbicara lantang.

Kemudian, beberapa hari lalu, majalah perempuan Vatikan, Women Church World, mengecam pelecehan itu yang dalam sejumlah kasus membuat biarawati-biarawati terpaksa mengaborsi janin hasil hubungan dengan pastor. Padahal tindakan aborsi dilarang Gereja Katolik. Majalah itu juga menyebut bahwa gerakan #MeToo memungkinkan lebih banyak perempuan bersuara menceritakan kisah mereka.

(ita/ita)