DetikNews
Kamis 07 Februari 2019, 18:25 WIB

Presiden Rouhani Sebut Iran Siap Bersahabat dengan AS Jika Bertobat

Novi Christiastuti - detikNews
Presiden Rouhani Sebut Iran Siap Bersahabat dengan AS Jika Bertobat Hassan Rouhani (REUTERS/President.ir/Handout)
Teheran - Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan negaranya siap menjalin hubungan yang bersahabat dengan Amerika Serikat (AS) jika negara itu meminta maaf atas kesalahan-kesalahan di masa lalu.

"Slogan kami adalah hubungan yang bersahabat dengan seluruh dunia," ujar Rouhani saat berbicara di hadapan diplomat-diplomat asing di Teheran dalam rangka peringatan 40 tahun Revolusi Islam Iran, seperti dilansir AFP, Kamis (7/2/2019).

"(Itu juga termasuk) Amerika, jika negara itu bertobat ... dan meminta maaf atas intervensi-intervensi sebelumnya di Iran dan bersiap menerima kehebatan dan martabat bangsa Iran dan Revolusi Islamis yang hebat," imbuhnya.

"Kami tetap siap menerima pertobatan Amerika meskipun fakta bahwa selama bertahun-tahun mereka telah melakukan ketidakadilan kepada kami," ujar Rouhani.


Saat krisis penyanderaan terjadi di Kedutaan Besar AS di Teheran tahun 1979 silam, para mahasiswa Iran menuntut AS meminta maaf sebagai syarat pembebasan para diplomat dan warga sipil yang disandera. Saat itu ada 52 diplomat AS dan warga sipil yang disandera di dalam kedutaan selama 444 hari -- tercatat sebagai penyanderaan terlama dalam sejarah dunia.

Beberapa tahun kemudian, Iran dan AS memutuskan hubungan diplomatik. Hubungan kedua negara terus memburuk sejak saat itu.

Dalam pesan perayaan Tahun Baru Persia pada Maret 2009, Presiden AS saat itu, Barack Obama, menyampaikan sebuah pernyataan kepada Iran. Obama menyatakan: "Kami mengetahui Anda sebuah peradaban yang hebat, dan pencapaian-pencapaian Anda telah menuai rasa hormat dari Amerika Serikat dan dunia."

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, merespons Obama dengan menyatakan 'berubahlah dan perilaku kami akan berubah'.


Bulan Juni tahun yang sama, Obama menjadi Presiden AS yang masih aktif pertama yang mengakui keterlibatan dan peran AS dalam kudeta Iran tahun 1953 yang menumbangkan pemerintahan Iran, yang saat itu dipimpin Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh. Namun Obama tidak menyampaikan permohonan maaf.

Obama saat itu bersikeras bahwa Iran telah salah memahami AS, termasuk soal krisis penyanderaan.

Pemerintah Obama merupakan salah satu dari enam kekuatan dunia yang menandatangani kesepakatan nuklir dengan Iran tahun 2015. Penandatanganan kesepakatan itu berujung pencabutan sanksi-sanksi AS yang sebelumnya diberlakukan terhadap Iran. Namun pengganti Obama, Donald Trump, secara sepihak menarik AS dari kesepakatan nuklir itu pada Mei 2018 dan memberlakukan kembali sanksi-sanksi untuk Iran.

Pekan lalu, Rouhani pun menuduh AS sebagai 'pelanggar janji'.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed
>