5 Anggota Abu Sayyaf Menyerahkan Diri Terkait Bom di Katedral Jolo

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 04 Feb 2019 15:21 WIB
Ledakan bom kembar di katedral Jolo diyakini otoritas Filipina didalangi dua pengebom bunuh diri asal Indonesia (Western Mindanao Command/Handout via REUTERS)
Manila - Seorang anggota senior kelompok Abu Sayyaf bersama empat anggota lainnya yang diyakini terkait ledakan bom kembar di Jolo, menyerahkan diri kepada otoritas Filipina. Mereka diyakini sebagai kelompok yang membantu dua pengebom bunuh diri asal Indonesia yang melakukan serangan bom tersebut.

Seperti dilansir Reuters, Senin (4/2/2019), Kepala Kepolisian Nasional Filipina, Oscar Albayalde, menyatakan seorang anggota senior kelompok Abu Sayyaf yang disebut bernama Kammah Pae telah menyerahkan diri kepada tentara pemerintah Filipina.

Menurut Albayalde, otoritas Filipina meyakini Kammah Pae sebagai sosok yang membantu pasangan suami-istri asal Indonesia dalam melakukan serangan bom di Our Lady of Mount Carmel Cathedral di Jolo, Provinsi Sulu, pada 27 Januari lalu. Ledakan bom kembar itu menewaskan 23 orang dan melukai lebih dari 100 orang lainnya.

"Dia terpaksa menyerahkan diri. Dia mungkin tidak ingin mati dalam operasi militer," sebut Albayalde dalam konferensi pers merujuk pada Kammah Pae.


Diketahui bahwa tentara Filipina menewaskan tiga militan Abu Sayyaf dalam operasi militer di Patikul, Provinsi Sulu pada Sabtu (2/2) lalu. Lima tentara Filipina gugur dalam operasi yang bertujuan memburu pelaku di balik ledakan bom di katedral Jolo itu.

Ditambahkan Albayalde bahwa Kammah Pae telah menyangkal keterlibatannya dalam ledakan bom di katedral Jolo. Namun keterangan sejumlah saksi mata menyebut Kammah Pae terlihat mengawal dua pengebom bunuh diri asal Indonesia sebelum ledakan terjadi.

Tentara Filipina berhasil menyita sebuah bom rakitan (IED) dan komponennya dari rumah Kammah Pae. Kammah Pae dan empat anggota kelompok Abu Sayyaf lainnya kemungkinan dijerat dakwaan berlapis, termasuk dakwaan pembunuhan.

Namun ditegaskan Albayalde bahwa penyelidikan terhadap ledakan bom kembar di Jolo 'masih jauh dari akhir'. "Ada lebih banyak bukti yang perlu diperiksa dengan hati-hati," sebutnya.


Diketahui bahwa sebelum Presiden Rodrigo Duterte menyebut ledakan bom kembar di Jolo sebagai serangan bom bunuh diri, otoritas Filipina meyakini bom yang meledak di dalam dan di luar gereja itu diledakkan dari jarak jauh. Duterte menyebut serangan dilakukan oleh pasangan suami-istri.

Dalam pernyataan terpisah, Menteri Dalam Negeri Filipina, Eduardo Ano kemudian dua pengebom bunuh diri itu berasal dari Indonesia dan mendapat bantuan dari kelompok Abu Sayyaf. Ano juga menyebut dua pelaku sengaja memberi contoh pada teroris-teroris Filipina lainnya, yang tidak biasa melakukan aksi bom bunuh diri karena 'bertentangan dengan tradisi dan ada istiadat'.

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu), menyesalkan pernyataan Filipina itu disampaikan tanpa verifikasi. Ditegaskan Kemlu bahwa otoritas Filipina masih melakukan identifikasi terhadap pelaku-pelaku serangan bom di Jolo itu.

Abu Sayyaf merupakan kelompok militan yang berbasis di Filipina bagian selatan yang dikenal kerap menculik warga asing dan melakukan serangan terhadap otoritas Filipina. Abu Sayyaf juga diketahui telah menyatakan sumpah setia kepada Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Dalam pernyataan beberapa waktu lalu, ISIS mengklaim pihaknya bertanggung jawab atas ledakan di katedral Jolo itu.

(nvc/rna)