DetikNews
Rabu 30 Januari 2019, 18:00 WIB

Bendungan Jebol di Brasil Tewaskan 84 Orang, 5 Insinyur Ditangkap

Novi Christiastuti - detikNews
Bendungan Jebol di Brasil Tewaskan 84 Orang, 5 Insinyur Ditangkap Petugas penyelamat saat melakukan pencarian korban di lokasi bendungan jebol di Brasil (REUTERS/Washington Alves)
Brasilia - Lima insinyur, termasuk dua orang yang bekerja untuk perusahaan Jerman, ditangkap terkait jebolnya sebuah bendungan di Brasil. Jumlah korban tewas saat ini bertambah menjadi 84 orang.

Seperti dilansir AFP, Rabu (30/1/2019), tiga orang di antaranya yang ditangkap bekerja untuk Vale, pemilik tambang yang menjadi lokasi jebolnya bendungan tersebut pada Jumat (25/1) lalu. Jaksa setempat menyebut ketiganya terlibat langsung dalam proses pengajuan lisensi operasional area tambang tersebut.

Ketiganya ditangkap di Belo Horizonte, kota utama di negara bagian Minas Gerais yang menjadi lokasi kejadian.

Dua orang lainnya yang ditangkap disebut bekerja untuk TUEV SUED, sebuah perusahaan Jerman yang pada September lalu melakukan pemeriksaan keamanan terakhir pada bendungan yang jebol. Keduanya ditangkap di Sao Paulo.


Identitas kelima orang yang ditangkap tidak diungkap ke publik. Hanya disebutkan bahwa kelimanya akan ditahan hingga 30 hari ke depan, sembari diinterogasi oleh jaksa setempat.

Jaksa penuntut setempat menyatakan penyelidikan mereka 'mengevaluasi tanggung jawab kriminal yang ditanggung perusahaan Vale' dalam tragedi ini. Penyebab jebolnya bendungan itu masih belum diketahui pasti.

Juru bicara Departemen Pertahanan Sipil di Minas Gerais, Flavio Godinho, jumlah korban tewas saat ini mencapai 84 orang, dengan sekitar 276 orang lainnya masih hilang.

Secara terpisah, pihak TUEV SUED merilis pernyataan singkat yang isinya mengonfirmasi penangkapan dua pegawainya di Brasil. "Karena penyelidikan masih berlangsung, kami saat ini tidak dalam posisi memberikan lebih banyak informasi. Kami mendukung penuh penyelidikan," demikian pernyataan TUEV SUED.


Vale yang merupakan salah satu perusahaan tambah bijih besi terbesar dunia, juga menyatakan pihaknya 'bekerja secara penuh' dengan otoritas setempat. Dalam pernyataannya, Vale menyebut pihaknya melakukan upaya-upaya untuk memberikan dukungan 'tanpa syarat' untuk keluarga korban tewas dan korban hilang.

Pada Selasa (29/1) waktu setempat, Vale kehilangan nyaris seperempat nilai sahamnya di bursa saham setempat karena para investor mulai bereaksi terhadap tragedi tersebut.

Jebolnya bendungan milik Vale itu memicu luapan lumpur yang menimbun kantin tempat para karyawan tambang makan sekaligus mengepung rumah-rumah warga, kendaraan dan jalanan setempat. Usai insiden terjadi, akses menuju kawasan itu sulit dijangkau. Bahkan regu-regu penyelamatan harus menggunakan helikopter dan alat-alat berat.


(nvc/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed