detikNews
Selasa 22 Januari 2019, 19:01 WIB

Terkatung di Perbatasan Bangladesh-India, 31 Warga Rohingya Ditangkap

Novi Christiastuti - detikNews
Terkatung di Perbatasan Bangladesh-India, 31 Warga Rohingya Ditangkap Pengungsi Rohingya menangis sambil menggendong anaknya saat ditahan otoritas India (REUTERS/Jayanta Dey)
New Delhi - Kepolisian India menangkap sedikitnya 31 warga minoritas muslim Rohingya, termasuk 17 anak-anak, yang terkatung-katung di perbatasan Bangladesh-India selama tiga hari. Penangkapan dilakukan setelah Bangladesh menolak untuk menampung mereka.

Pemerintahan India menganggap Rohingya sebagai warga asing yang ilegal dan memberikan ancaman keamanan. Selama ini India memerintahkan puluhan ribu pengungsi Rohingya yang hidup di berbagai lokasi terpisah di India untuk didata dan dipulangkan ke Myanmar.


Seperti dilansir Reuters, Selasa (22/1/2019), sekitar 31 warga Rohingya yang ditangkap ini telah terkatung-katung sejak Jumat (18/1) lalu di sebuah lahan tanpa pemilik yang ada di antara perbatasan Bangladesh dan India.

Pembicaraan telah digelar antara otoritas perbatasan kedua negara sebanyak dua kali, namun gagal menemukan solusi.

"Kami menangkap mereka di bawah Undang-undang Warga Asing atas dakwaan masuk ke India tanpa dokumen perjalanan yang valid," sebut Ajay Kumar Das, pejabat kepolisian di Tripura yang berbatasan dengan Bangladesh.


Ratusan ribu warga Rohingya melarikan diri dari rumah mereka di Rakhine, Myanmar selama beberapa tahun terakhir. Kebanyakan dari mereka berusaha menyelamatkan diri dari operasi militer Myanmar yang sarat kekerasan.

Banyak pengungsi Rohingya yang kini tinggal di kamp-kamp pengungsian di Bangladesh, namun yang lain berakhir di India, negara-negara Asia Tenggara dan sekitarnya.

Dituturkan Badan Pengungsi PBB atau UNHCR bahwa 31 warga Rohingya yang ditangkap itu sebelumnya tinggal di Kashmir, India. Beberapa dari mereka bahkan disebut membawa kartu identitas pengungsi yang dirilis oleh UNHCR.


UNHCR diketahui telah mengeluarkan kartu identitas pengungsi bagi sekitar 16.500 warga Rohingya. Kartu identitas itu disebut bisa membantu 'mencegah pelecehan, penangkapan sewenang-wenang, penahanan dan deportasi'. Namun sayangnya, India tidak mengakui kartu identitas dari UNHCR itu.

Pada Oktober 2018 lalu, otoritas India mendeportasi tujuh warga Rohingya ke Myanmar. Hal itu memicu protes dari kelompok-kelompok HAM global.


(nvc/bag)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com