DetikNews
Rabu 09 Januari 2019, 16:11 WIB

PBB Minta Australia Tampung Perempuan Saudi yang Kabur dari Keluarga

Novi Christiastuti - detikNews
PBB Minta Australia Tampung Perempuan Saudi yang Kabur dari Keluarga Rahaf Mohammed Mutlaq Al-Qunun (tengah) bersama staf UNHCR dan pejabat imigrasi Thailand (Thailand Immigration Police via REUTERS)
Canberra - Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meminta Australia untuk mempertimbangkan permohonan suaka yang diajukan seorang remaja putri asal Arab Saudi yang kabur dari keluarganya dan kini tinggal sementara di Thailand.

Remaja bernama Rahaf Mohammed al-Qunun (18) itu menjadi pemberitaan internasional setelah mengklaim dirinya melarikan diri dari keluarganya di Kuwait dan berniat mencari suaka di Australia, sebelum memutuskan masuk ke Thailand. Qunun juga mengklaim dirinya akan dibunuh jika dipulangkan paksa. Qunun menyatakan dirinya sedang berupaya mendapatkan status pengungsi dari negara manapun yang bisa melindunginya.


Seperti dilansir Reuters, Rabu (9/1/2019), otoritas Australia menyatakan pihaknya akan mempertimbangkan untuk menampung Qunun, jika Badan Pengungsi PBB atau UNHCR menganggapnya sebagai pengungsi.

"UNHCR telah merujuk Rahaf Mohammed al-Qunun ke Australia untuk pertimbangan permukiman pengungsi," sebut Departemen Keamanan Dalam Negeri Australia dalam pernyataannya.

Rujukan semacam itu menandakan PBB, khususnya UNHCR telah meyakini Qunun sebagai pengungsi yang sah. Departemen Keamanan Dalam Negeri Australia menyatakan, pihaknya akan mengkaji rujukan itu 'dengan cara yang biasa, sama seperti semua rujukan UHNCR'.


Diketahui bahwa Qunun tiba di Bangkok, Thailand pada Sabtu (5/1) lalu dan awalnya dia dilarang masuk, bahkan sempat akan dipulangkan paksa ke Kuwait, tempat keluarganya berada. Dari area transit di Bandara Suvarnabhumi Bangkok, Qunun mulai memposting pesan via Twitter. Pesan-pesan itu menyebut dirinya 'kabur dari Kuwait' dan nyawanya dalam bahaya jika dia dipulangkan paksa.

Dalam hitungan jam, postingan Qunun itu viral dan disebarkan banyak jaringan aktivis seluruh dunia. Sekitar 36 jam usai melarang Qunun masuk, otoritas Thailand mencabut keputusannya. Otoritas Thailand mengizinkan Qunun untuk tinggal sementara di wilayahnya di bawah perlindungan staf UNHCR.

Pada Selasa (8/1) waktu setempat, permohonan suaka yang diajukan Qunun mulai diproses oleh UNHCR. Pada hari yang sama, ayah Qunun dilaporkan tiba di Bangkok bersama saudara laki-lakinya.


Dituturkan Kepala Imigrasi Thailand Surachate Hakpan, Qunun menolak untuk menemui ayah dan saudara laki-lakinya. "Ayah Rahaf telah bertemu dengan perwakilan UNHCR untuk membahas persoalan itu ... tentu wajar jika orangtua khawatir soal anak mereka karena ini adalah masalah keluarga," tuturnya.

Kasus Qunun ini menyita perhatian dunia dan mengarahkan sorotan pada aturan sosial Saudi yang ketat, termasuk kewajiban seorang perempuan untuk mendapat izin dari 'wali' laki-laki saat bepergian. Kelompok-kelompok HAM global menyebut aturan semacam itu bisa menjerat perempuan sebagai tahanan keluarga-keluarga yang kasar.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed