DetikNews
Jumat 04 Januari 2019, 17:52 WIB

Milisi Rakhine Mengklaim Tewaskan 7 Tentara Myanmar

Novi Christiastuti - detikNews
Milisi Rakhine Mengklaim Tewaskan 7 Tentara Myanmar Ilustrasi (REUTERS/Soe Zeya Tun)
Naypyitaw - Milisi Buddha Rakhine mengklaim telah menewaskan tujuh tentara Myanmar dalam serangan terhadap empat pos kepolisian di wilayah Rakhine yang rawan konflik. Serangan terjadi tepat saat perayaan Hari Kemerdekaan Myanmar yang jatuh pada 4 Januari.

Sejak awal Desember 2018, militer Myanmar terlibat pertempuran sengit dengan milisi Buddha di Rakhine atau Arakan Army. Diketahui bahwa Arakan Army merupakan salah satu kelompok pemberontak yang diperangi militer Myanmar karena menginginkan otonomi lebih besar bagi etnis Buddha mereka di Rakhine. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan sekitar 2.500 warga Rohingya 'dipaksa melarikan diri' dari Rakhine akibat pertempuran terbaru itu.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (4/1/2019), juru bicara Arakan Army, Khine Thu Kha, mengklaim kelompoknya telah menyerang empat pos kepolisian dan mengambil tujuh jenazah 'musuh'. Diklaim juga oleh Khine Thu Kha bahwa kelompoknya menahan 12 personel pasukan keamanan Myanmar.

"Kami akan memproses mereka sesuai hukum internasional. Kami tidak akan membahayakan mereka," tegas Khine Thu Kha.


Menurut Khine Thu Kha, serangan itu merespons operasi militer Myanmar terhadap Arakan Army dalam beberapa pekan terakhir yang disebutnya juga menargetkan warga sipil.

Bulan lalu, militer Myanmar mengumumkan penghentian pertempuran selama 4 bulan untuk wilayah utara dan timur laut Myanmar, demi memulai perundingan damai dengan sejumlah kelompok bersenjata lainnya yang memperjuangkan otonomi etnis. Penghentian pertempuran itu tidak berlaku untuk wilayah Rakhine.

Media nasional Myanmar, Global New Light of Myanmar, sebelumnya melaporkan bahwa satu polisi mengalami luka kritis setelah terjadi serangan terhadap polisi penjaga perbatasan oleh sekitar 30 pria yang membawa 'senjata berat dan ringan'. Serangan disebut terjadi di dekat Saytaung, sebuah desa di area Buthidaung, Rakhine, pada Selasa (1/1) waktu setempat.

Dalam pernyataan terpisah, juru bicara militer Myanmar, Zaw Min Tun, membenarkan adanya serangan terhadap pos kepolisian di wilayah utara Buthidaung dan Maungdaw yang sama-sama ada di wilayah Rakhine.


Zaw Min Tun menuturkan kepada Reuters bahwa personelnya telah menanggapi serangan yang terjadi Jumat (4/1) waktu setempat itu. "Militer akan melanjutkan operasinya di area tersebut demi keamanan," ucapnya.

Sayangnya, Zaw Min Tun enggan menyebut jumlah korban tewas dan jumlah personel yang ditahan milisi Buddha Rakhine itu. Dia juga tidak mengonfirmasi laporan yang beredar.

"Pos-pos kepolisian ini bertujuan melindungi ras-ras nasional di area tersebut jadi tidak seharusnya menyerang mereka," ujar Zaw Min Tun merujuk pada kelompok etnis Buddha di Rakhine yang diakui sebagai warga negara Myanmar. Kelompok-kelompok itu tidak termasuk Rohingya.

Zaw Min Tun mengatakan, serangan terjadi beberapa menit setelah bendera nasional Myanmar dikibarkan untuk memperingati 71 tahun kemerdekaan Myanmar dari Inggris. Menanggapi itu, Khine Thu Kha menyatakan serangan kelompoknya tidak dimaksudkan untuk bertepatan dengan hari kemerdekaan. "Kami belum merdeka. Hari ini bukan Hari Kemerdekaan kami," ujarnya.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed