DetikNews
Kamis 03 Januari 2019, 18:20 WIB

PBB: Bentrokan Baru Pecah di Rakhine, 2.500 Warga Rohingya Kabur

Novi Christiastuti - detikNews
PBB: Bentrokan Baru Pecah di Rakhine, 2.500 Warga Rohingya Kabur Ilustrasi (REUTERS/Danish Siddiqui)
Naypyitaw - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa sekitar 2.500 warga Rohingya telah melarikan diri dari wilayah Rakhine, setelah bentrokan terbaru pecah antara militer Myanmar dengan kelompok pemberontak setempat.

Seperti dilansir kantor berita Turki, Anadolu Agency, Kamis (3/1/2018), juru bicara Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB, Farhan Haq, menyatakan bahwa Rohingya 'dipaksa untuk melarikan diri dari pertempuran antara Arakan Army dan militer Myanmar' yang dimulai sejak bulan lalu.

Disebutkan Haq bahwa tim PBB telah dikirimkan ke Rakhine untuk melakukan penyelidikan dan mendata kebutuhan apa yang yang dibutuhkan oleh warga sipil setempat.

Dalam pernyataan terpisah, seperti dilansir Reuters, juru bicara kelompok Arakan Army, Khine Thu Kha, menyebut ratusan polisi Myanmar dikerahkan ke Rakhine sebagai bagian dari operasi militer besar-besaran melawan kelompok mereka.


Arakan Army merupakan salah satu kelompok yang sedang diperangi militer Myanmar karena disebut menginginkan otonomi lebih besar bagi etnis minoritas.

Sedangkan media nasional Myanmar, Global New Light of Myanmar, pada Rabu (2/1) melaporkan bahwa Kepolisian Myanmar diserang sekitar 30 pria yang membawa 'senjata berat dan ringan'. Serangan terjadi di dekat Saytaung, sebuah desa di area Buthidaung, Rakhine, pada Selasa (1/1) waktu setempat.

Satu polisi disebut mengalami luka kritis akibat serangan itu. Khine Thu Kha telah menyangkal kelompoknya yang menyerang polisi Myanmar itu.

Diketahui bahwa wilayah Rakhine yang rawan konflik menjadi tempat tinggal warga etnis minoritas muslim Rohingya yang banyak menjadi korban. PBB sebelumnya mencatat bahwa pemerkosaan bergiliran secara besar-besaran, pembunuhan -- termasuk terhadap bayi dan anak-anak, hingga pemukulan brutal dilakukan militer Myanmar di Rakhine. Dalam laporannya, PBB menyebut tindak kekerasan semacam itu mengarah pada kejahatan kemanusiaan.


Sejak 25 Agustus 2017, menurut data Ontario International Development Agency (OIDA), nyaris 24 ribu warga Rohingya tewas di tangan militer Myanmar.

Sementara Amnesty International melaporkan lebih dari 750 ribu warga Rohingya, kebanyakan wanita dan anak-anak, melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh demi menghindari tindak kekerasan militer Myanmar.


(nvc/rna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed