AS Setuju Jual Puluhan Rudal Patriot Rp 5 Triliun ke Turki

Rita Uli Hutapea - detikNews
Kamis, 20 Des 2018 12:49 WIB
Foto: AFP Photo/ANDREW HALL
Washington - Pemerintah Amerika Serikat telah menyetujui penjualan puluhan rudal Patriot dan sistem rudal lainnya senilai US$ 3,5 miliar (sekitar Rp 50 triliun) ke Turki. Pemerintah AS juga memberikan ultimatum kepada Turki terkait rencananya untuk membeli rudal-rudal dari Rusia.

Pengumuman ini disampaikan Departemen Luar Negeri (Deplu) AS setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa pasukan AS akan ditarik dari negara tetangga Turki, Suriah. Keputusan ini tentunya akan disambut oleh Turki yang memerangi para milisi Kurdi di Suriah.

Deplu AS menyatakan pihaknya telah memberitahukan Kongres AS mengenai rencana untuk menjual sebuah paket senjata yang mencakup 80 rudal Patriot, 60 pencegat rudal PAC-3 dan peralatan terkait.

"Penjualan yang diusulkan akan meningkatkan kemampuan pertahanan militer Turki untuk melindungi terhadap agresi musuh dan melindungi sekutu-sekutu NATO yang mungkin melatih dan beroperasi di dalam perbatasan Turki," demikian statemen Deplu AS seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (20/12/2018).



Setahun lalu, pemerintah Turki mengumumkan kesepakatan untuk membeli rudal-rudal S-400 dari Rusia. Pengumuman ini memicu kemarahan AS dan sekutu-sekutu Turki di NATO.

Seorang pejabat Deplu AS menyatakan, Turki membahayakan partisipasi dalam program militer AS lainnya, yakni jet-jet tempur F-35, jika Turki tetap melakukan pembelian rudal S-400 tersebut. Pejabat tersebut juga mengingatkan, Turki juga bisa menghadapi sanksi atas pembelian pertahanan berdasarkan undang-undang AS jika rencana pembelian rudal S-400 itu diteruskan.



Pekan ini, Turki menyatakan mengatakan pihaknya sedang mempersiapkan peluncuran operasi terhadap milisi Kurdi di Suriah utara, yang merupakan sekutu AS dalam perlawanannya terhadap ISIS. Selama ini, kerja sama antara AS dan Kurdi telah membuat marah Turki, yang memandang kelompok milisi YPG Kurdi - pasukan tempur utama di Pasukan Demokratis Suriah (SDF) - sebagai perpanjangan dari kelompok Kurdi pro-otonomi di Turki yang ditolak oleh otoritas Turki.

Pada hari Senin (17/12) waktu setempat, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan negaranya kemungkinan akan segera memulai operasi militer baru melawan kelompok YPG di Suriah. Erdogan menambahkan bahwa dia telah mendiskusikan rencananya dengan Trump melalui telepon dan Trump telah memberikan "respons positif".

(ita/ita)