detikNews
Senin 19 November 2018, 18:45 WIB

Menteri Israel Batal Mundur, Krisis Pemerintahan Netanyahu Mereda

Novi Christiastuti - detikNews
Menteri Israel Batal Mundur, Krisis Pemerintahan Netanyahu Mereda Benjamin Netanyahu (Dok. Anadolu Agency)
Tel Aviv - Krisis yang melanda koalisi pemerintahan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mereda usai menteri penting dalam jajarannya batal mundur di tengah perbedaan pendapat soal gencatan senjata di Gaza. Pembubaran pemerintahan yang dikhawatirkan terjadi, telah terhindarkan.

Pengunduran diri Menteri Pertahanan (Menhan) Israel Avigdor Lieberman pekan lalu karena tidak sepakat dengan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dengan Hamas di Gaza, telah menyisakan krisis dalam pemerintahan PM Netanyahu.

Dengan mundurnya Lieberman dan keluarnya Partai Yisrael Beitenu yang menaunginya dari koalisi pemerintahan PM Netanyahu, membuat koalisi pemerintahan PM Netanyahu hanya satu kursi dalam parlemen Israel atau Knesset yang beranggotakan 120 orang. Hal ini meningkatkan kemungkinan digelarnya pemilu dini, yang seharusnya belum akan digelar hingga November 2019.


Seperti dilansir Reuters dan AFP, Senin (19/11/2018), pernyataan Menteri Pendidikan Israel Naftali Bennett yang mengancam akan mundur dari koalisi PM Netanyahu jika posisi Menhan yang kosong tidak diberikan untuknya, semakin memperkeruh suasana. Pengunduran diri Bennett bisa berdampak buruk pada koalisi pemerintahan PM Netanyahu karena Partai Jewish Home yang menaungi Bennett menempati delapan kursi di parlemen Israel.

Situasi semakin muram saat PM Netanyahu menyatakan menolak untuk menyerahkan posisi Menhan Israel kepada Bennett, yang sebenarnya juga rival politiknya. Dalam tanggapannya pada Minggu (18/11), PM Netanyahu menyebut pemilu dini akan sangat 'tidak bertanggung jawab' mengingat situasi keamanan sangat rumit yang tengah dihadapi Israel saat ini.

"Keamanan nasional ada di atas politik," tegasnya. "Saya tidak akan mengatakan malam ini soal kapan kita akan bertindak dan bagaimana. Saya punya rencana jelas. Saya tahu apa yang harus dilakukan dan kapan melakukannya. Dan kita akan melakukannya," imbuh Netanyahu.


Mendengar pernyataan itu, Bennett mengambil keputusan mengejutkan yakni menyatakan batal mundur. Dia juga menegaskan partainya mencabut seluruh tuntutan politik dan akan mendukung PM Netanyahu pada masa-masa sulit ini. Disebutkan Bennett bahwa dirinya akan memberikan kesempatan pada PM Netanyahu untuk memperbaiki situasi.

"Jika Perdana Menteri serius dengan niat-niatnya dan saya ingin mempercayai kata-katanya semalam, saya mengatakan saat ini kepada Perdana Menteri bahwa kami untuk saat ini mencabut seluruh tuntutan politik kami dan akan membantu Anda dalam misi besar membuat Israel menang kembali," tegas Bennett dalam pernyataannya yang disiarkan televisi setempat.

Bennett mengaku sadar akan reaksi keras yang akan dihadapinya karena mencabut ultimatumnya. "Saya tahu saya akan membayar harga politik -- bukan akhir dunia, Anda kadang menang, Anda kadang kalah," ucapnya. "Lebih baik Perdana Menteri yang mengalahkan saya dalam pertempuran politik, daripada (pemimpin Hamas Ismail) Haniya yang mengalahkan Israel," tegas Bennett.

Gencatan senjata antara Israel dan militan Gaza termasuk Hamas yang tercapai Selasa (13/11) lalu, memicu penolakan publik Israel. Ratusan warga Israel menggelar protes atas gencatan senjata itu dan bahkan menyerukan pengunduran diri PM Netanyahu.


(nvc/bag)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com