DetikNews
Selasa 13 November 2018, 23:30 WIB

Gaduh Rekaman Ngeri Pembunuhan Khashoggi

Novi Christiastuti, Faiq Hidayat - detikNews
Gaduh Rekaman Ngeri Pembunuhan Khashoggi Jamal Khashoggi (Foto: BBC World)
Ankara - Perkembangan kasus pembunuhan wartawan Arab Saudi Jamal Khashoggi semakin membuat gempar. Sampai-sampai pemerintah Turki dan Prancis bertikai. Apa masalahnya?

Berawal dari penyerahan bukti rekaman dari otoritas Turki ke sejumlah negara, termasuk Arab Saudi. Rekaman audio itu memperdengarkan momen penting kasus pembunuhan di dalam Konsulat Saudi di Istanbul tersebut.

Seperti dilansir CNN dan Hurriyet Daily News, Senin (12/11), hal tersebut diungkapkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebelum terbang ke Paris, Prancis untuk menghadiri peringatan Perang Dunia I.




"Kami telah menyerahkan sejumlah rekaman. Kami memberikannya kepada Arab Saudi, kepada Amerika Serikat, kepada Jerman, Prancis dan Inggris -- kami memberikannya kepada mereka semua," sebut Erdogan.

"Mereka telah mendengarkan semua percakapan di dalamnya. Mereka tahu," imbuh Erdogan tanpa memberi penjelasan lebih lanjut.

Sementara itu, kata-kata terakhir Khashoggi sebelum dibunuh diungkapkan oleh surat kabar pro-pemerintah Turki, Sabah. Dalam kata-kata terakhirnya, Khashoggi menyebut dirinya merasakan sesak napas.

"Saya sesak napas ... Lepaskan tas ini dari kepala saya, saya klaustrofobia," ucap Khashoggi menurut rekaman audio dari dalam Konsulat Saudi di Istanbul, seperti disampaikan Karaman dan dikutip Al-Jazeera.

Sejumlah otoritas negara lain seperti Inggris, Kanada, hingga Prancis turut angkat bicara. Erdogan menyebut otoritas intelijen Saudi terkejut setelah mendengarkan rekaman itu.




"Semua pihak yang meminta, telah mendengarkan rekaman audio pembunuhan ini. Badan intelijen kami tidak menutupi apapun. Selain Arab Saudi, Amerika Serikat, Prancis, Kanada, Jerman dan Inggris telah mendengarkan rekaman ini," tegas Erdogan.

"(Isi) Rekaman ini sungguh mengerikan. Bahkan, pejabat intelijen Saudi terkejut saat dia mendengarkan rekaman ini, dia berkata 'Pria ini (pelaku-red) mungkin menggunakan heroin, hanya pria dengan heroin yang bisa melakukan hal seperti itu'," imbuh Erdogan kepada wartawan usai kembali dari Paris, Prancis.

Belakangan Turki malah bersitegang dengan Prancis. Pangkalnya, Turki menyebut komentar Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian 'tak bisa diterima' dan 'tak sopan' karena menuduh Erdogan melakukan 'permainan politik'.

Dalam wawancara dengan televisi France 2 pada Senin (12/11), Menlu Le Drian menyebut dirinya 'untuk saat ini tidak menyadari' adanya informasi yang diberikan oleh Turki. Saat ditanya apakah Erdogan berbohong, Le Drian menjawab: "Itu berarti dia (Erdogan-red) memiliki permainan politik untuk dimainkan dalam situasi ini."

Komentar Le Drian itu memancing kegeraman Turki. Direktur Komunikasi Kepresidenan Turki, Fahrettin Altun, dan Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu sama-sama memberikan pernyataan keras atas komentar tersebut.

"Kami mendapati ini tidak bisa diterima bahwa dia menuduh Presiden Erdogan 'memainkan permainan politik'," sebut Altun dalam pernyataan tertulis kepada AFP. "Jangan lupakan bahwa kasus ini sudah ditutup-tutupi jika bukan karena upaya penuh tekad dari Turki," imbuhnya.




Secara terpisah, Menlu Cavusoglu menyebut tuduhan dari Menlu Le Drian itu mengarah pada 'ketidaksopanan'. "Tidak cocok dengan keseriusan seorang Menteri Luar Negeri," ujarnya sembari menuduh Menlu Le Drian telah 'melanggar wewenangnya'

Memberikan tanggapan, Kementerian Luar Negeri Prancis menyebut adanya 'kesalahpahaman'. Disebutkan bahwa informasi yang disediakan Turki belum mengarah pada 'kebenaran seutuhnya', termasuk soal siapa yang bertanggung jawab atas pembunuhan itu.

"Yang kami pedulikan adalah kebenaran seutuhnya, bukan hanya rekaman dari Turki ... kebenaran seutuhnya juga dicari di Riyadh dan dalam pertukaran dengan mitra-mitra kami yang lain," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Prancis.

Khashoggi (60) yang seorang wartawan senior dan kolumnis The Washington Post ini tewas dibunuh setelah masuk ke dalam Konsulat Saudi pada 2 Oktober lalu. Jaksa penuntut umum Istanbul menyebut Khashoggi tewas dicekik dalam aksi yang direncanakan dan jenazahnya dimutilasi.

Otoritas Saudi, melalui Jaksa Agung Saud al-Mojeb, telah mengakui bahwa Khashoggi tewas dalam pembunuhan berencana. Namun keberadaan jenazahnya dan siapa pemberi perintah pembunuhan belum diketahui hingga kini.




Informasi terbaru yang belum terkonfirmasi dari surat kabar Turki, Sabah, menyebut pembunuh Khashoggi membuang jenazahnya ke pipa saluran usai melarutkannya dengan zat asam. Sampel yang diambil dari pipa-pipa saluran di kompleks Konsulat Saudi menunjukkan adanya bekas zat asam. Temuan itu mendorong keyakinan para penyidik Turki bahwa jenazah Khashoggi dibuang melalui pipa saluran dalam bentuk cairan.

Dalam pernyataannya, Erdogan menyerukan agar otoritas Saudi segera mengidentifikasi pembunuh Khashoggi dari daftar tim beranggotakan 15 orang yang tiba di Istanbul sebelum pembunuhan Khashoggi. Saudi juga diminta menjawab pertanyaan soal apa yang terjadi pada jenazah Khashoggi.

Diketahui bahwa otoritas Saudi telah menahan 18 orang terkait penyelidikan kasus pembunuhan Khashoggi. Sebanyak 15 orang di antaranya merupakan 15 warga Saudi yang diidentifikasi otoritas Turki sebagai tim intelijen yang tiba di Istanbul sebelum Khashoggi dibunuh.
(dhn/dkp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed