DetikNews
Senin 22 Oktober 2018, 22:38 WIB

Korsel: Indonesia Nunggak $ 200 Juta di Proyek Pesawat Tempur

Danu Damarjati - detikNews
Korsel: Indonesia Nunggak $ 200 Juta di Proyek Pesawat Tempur Foto ilustrasi: Pesawat tempur melintasi upacara peringatan kemerdekaan ke-73 RI. (Andhika/detikcom)
Jakarta - Korea Selatan (Korsel) menyatakan Indonesia belum membayar tunggakan $ 200 juta dalam proyek jet tempur bersama senilai miliaran Dolar. Benarkah?

Dilansir AFP, Senin (22/10/2018), Korea Fighter eXperiment KFX adalah proyek senilai 8 triliun Won atau sekitar $ 7 miliar. Tujuan proyek ini untuk mengembangkan armada dari 120 pesawat tempur generasi baru yang asli, guna menggantikan pesawat Korsel bikinan Amerika Serikat (AS) yang semakin menua, yakni F-4 dan F-5.

Industri Kedirgantaraan Korea dan kedirgantaraan raksasa AS, Lockheed Martin, adalah kontraktor utama di proyek KFX itu. Mesin-mesinnya bakal disuplai oleh perusahaan besar General Electric.


Menurut pemberitaan AFP ini, Jakarta meneken persetujuan pada 2016 lampau untuk menjadi mitra junior. Jakarta akan menangani 20 persen dari biaya proyek serta menerima satu pesawat purwarupa (prototype). 100 Pekerja Indonesia akan ikut ambil bagian dalam pengembangan dan proses produksi.

Namun pihak Administrasi Program Akuisisi Pertahanan Korea Selatan (DAPA) yang menangani pembelian alat utama sistem persenjataan menyatakan pada Senin (22/10/2018), Indonesia berhenti membayar bagiannya.


"Kami berencana untuk menunda negosiasi tambahan untuk menunggu pembayaran kontribusi Indonesia," kata juru bicara DAPA.

Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) RI Wiranto mengatakan bahwa pihaknya sedang mencari upaya untuk membuat persetujuan baru secar keseluruhan.

"Dengan kondisi ekonomi nasional, Presiden Joko Widodo memutuskan untuk merenegosiasi persetujuan itu," kata Wiranto, Jumat (19/10) kemarin.


Nilai tukar Rupiah sedang terpuruk ke titik terendah selama 20 tahun terakhir. Kondisi ini membuat pembayaran semakin mahal.

Wiranto menjelaskan, Jakarta ingin mengubah pembagian pembiayaan, pembiayaan produksi, transfer teknologi, dan hak intelektual.

"Ini jelas belum final karena kami butuh waktu. Semoga ini akan terselesaikan dalam waktu kurang dari setahun," kata Wiranto.


Namun demikian, juru bicara DAPA menekankan bahwa proyek bersama itu akan berlanjut dan pesawat tempur bakal dioperasikan sesuai rencana, yakni pada tahun 2026 nanti untuk mempertahankan Korea Selatan.

Negara tetangga mereka, yakni Korea Utara, dikenal sebagai pihak yang berkali-kali kena sanksi Dewan Keamanan PBB karena program nuklir dan misil balistiknya.


(dnu/hans)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed