DetikNews
Senin 22 Oktober 2018, 05:42 WIB

Ramai-ramai Menolak Klaim Khashoggi Tewas Berkelahi

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Ramai-ramai Menolak Klaim Khashoggi Tewas Berkelahi Jamal Khashoggi (Foto: Middle East Monitor/Handout via REUTERS/File Photo)
Istanbul -

Otoritas Arab Saudi akhirnya mengakui jika wartawan Jamal Khashoggi tewas dalam konsulatnya di Kota Istanbul, Turki. Namun dunia internasional menolak pernyataan Saudi yang menyebut Khashoggi tewas akibat terlibat perkelahian.

Melalui Kantor berita resmi kerajaan, SPA, otoritas Saudi mengungkapkan Khashoggi hilang setelah terjadi 'pertarungan tinju. Hal ini berdasarkan hasil penyelidikan otoritas Saudi.

"Sebuah argumen meletus antara dia (Khashoggi) dan yang lain yang dia temui di konsulat Saudi di Istanbul yang menyebabkan perkelahian tinju yang menyebabkan kematiannya," SPA melaporkan seperti dilansir Aljazeera, Sabtu (20/10/2018).

"Investigasi masih berlangsung dan 18 warga Saudi telah ditangkap," kata pernyataan dari jaksa penuntut umum Saudi. Ditambahkan dalam pernyataan tersebut, penasihat istana Saud al-Qahtani dan wakil kepala intelijen Ahmed al-Asiri telah dipecat dari jabatan mereka.

Pengakuan Saudi langsung direspons sejumlah anggota parlemen Amerika Serikat (AS). Senator Lindsey Graham dari partai Republik meragukan kredibilitas otoritas Saudi, yang selama dua pekan ini bersikeras bahwa Khashoggi telah meninggalkan Konsulat Arab Saudi pada 2 Oktober lalu.


Diketahui bahwa sejak awal menghilangnya Khashoggi usai mendatangi gedung Konsulat Saudi di Istanbul, otoritas Saudi mengatakan bahwa jurnalis kawakan itu telah meninggalkan Konsulat pada 2 Oktober. Bahkan ketika pejabat-pejabat Turki mulai terang-terangan menyatakan keyakinan mereka bahwa Khashoggi telah tewas di Konsulat, otoritas Saudi tetap membantah hal itu.

Politikus partai Republik lainnya, Eric Swalwell bahkan mempertanyakan di mana jasad Khashoggi jika dia benar tewas dalam perkelahian di gedung Konsulat.

"Di mana jasadnya?" tulis Swalwell dalam postingan di akun Twitter-nya seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (20/10/2018). "Keluarga Khashoggi berhak untuk segera mendapatkan jenazahnya di saat mereka mencari penyelesaian," tulisnya.

Senator Bob Menendez dari partai Demokrat mengatakan, bahwa pemerintah AS harus mengupayakan sanksi-sanksi terhadap warga Saudi yang terlibat dalam kematian Khashoggi sesuai hukum Amerika, UU Global Magnitsky.

"UU Global Magnitsky tak punya pengecualian untuk kecelakaan. Bahkan jika Khashoggi meninggal karena pertengkaran, itu bukan alasan untuk pembunuhannya," tulis Menendez lewat Twitter. "Ini jauh dari selesai dan kita perlu mempertahankan tekanan internasional," imbuhnya.


Presiden AS Donald Trump menyatakan ketidakpuasannya atas penjelasan Saudi. Namun pejelasan itu menurut Trump adalah langkah awal yang baik.

"Tidak, saya tidak puas sampai kami menemukan jawabannya. Tapi itu adalah langkah pertama yang besar, itu adalah langkah pertama yang baik. Tapi saya ingin mendapatkan jawabannya," ujar Trump kepada wartawan di sela kunjungan kerjanya di Elko, Nevada, AS, Minggu (21/10) seperti dilansir Reuters.

Trump menyebut, mungkin saja Pangeran Mohammed Bin Salman (MBS) tidak mengetahui keadaan sekitar saat kematian Khashoggi. Ia menambahkan, tidak ada seorang pun yang tahu di mana jasad Khashoggi. Tidak seorang pun dari otoritas AS telah melihat video dari peristiwa di dalam konsulat.


Negara-negara Eropa juga tidak puas dengan penjelasan 'tanggung' Saudi soal kematian Khashoggi. Dilansir Reuters, Minggu (21/10), Kanselir Jerman Angela Merkel menyebut penjelasan Saudi 'tidak memadai'. Angela melanjutkan, pihaknya akan meninjau ulang rencana negaranya menjual peralatan persenjataan kepada Saudi.

Hal yang sama dilakukan Prancis dan Uni Eropa yang menginginkan investigasi mendalam mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada Khashoggi. Sementara itu Turki menjadi negara terdepan yang punya sikap berseberangan dengan klaim Saudi, bahkan jauh hari sebelum Saudi memberikan penjelasan.



Tunangan Khashoggi, Hatice Cengiz yang ikut menemani kekasihnya sesaat sebelum kejadian menilai ditetapkannya 18 orang tersangka tidaklah cukup. Dia meminta otak pembunuhan itu juga harus diadili.

"Kami menginginkan keadilan untuk Jamal. Delapan belas (tersangka) tidak cukup. Kami juga ingin mereka yang memerintahkan," kata Hatice Cengiz lewat Twitter pada Sabtu (20/10) malam seperti yang dilansir oleh CNN pada Minggu (21/10).



Simak Juga Arab Saudi Akui Khashoggi Tewas di Konsulat Saudi':

[Gambas:Video 20detik]


(nvl/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed