DetikNews
Kamis 18 Oktober 2018, 11:23 WIB

Khashoggi Hilang, Politikus AS Ajukan RUU Setop Jual Senjata ke Saudi

Novi Christiastuti - detikNews
Khashoggi Hilang, Politikus AS Ajukan RUU Setop Jual Senjata ke Saudi Ilustrasi (REUTERS/Yuri Gripas)
Washington DC - Sebuah rancangan undang-undang (RUU) telah diajukan oleh sejumlah anggota parlemen Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan penjualan senjata terhadap Arab Saudi. Penghentian akan dilakukan hingga Saudi terbukti tidak terlibat kasus hilangnya wartawan Jamal Khashoggi.

Seperti dilansir kantor berita Anadolu Agency, Kamis (18/10/2018), RUU itu diajukan oleh sejumlah anggota House of Representatives (HOR) atau DPR AS pekan ini, menyikapi kasus Khashoggi yang menghilang sejak masuk ke Konsulat Saudi di Istanbul, Turki pada 2 Oktober lalu.

Anggota parlemen dari Partai Demokrat untuk wilayah Massachusetts, Jim McGovern, memimpin pengajuan RUU ini. McGovern diketahui menjabat sebagai co-chair Komisi HAM pada DPR AS dan menjadi anggota House Rules Committee yang bertugas mempertimbangkan RUU yang diajukan.

Disebutkan McGovern bahwa laporan-laporan yang muncul soal Khashoggi 'menunjukkan pelanggaran keterlaluan terhadap norma internasional'.


RUU itu menyatakan pemberian bantuan dan penjualan militer AS untuk Saudi akan dilarang, selama menunggu konfirmasi dari Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo soal status Khashoggi. Atau dengan kata lain, penjualan senjata untuk Saudi akan dihentikan hingga Pompeo bisa mengonfirmasi bahwa Saudi tidak memerintahkan pembunuhan Khashoggi. Hingga kini, otoritas Saudi bersikeras membantah terlibat kasus hilangnya Khashoggi.

"Jika Amerika Serikat membela apa pun, kita seharusnya membela HAM dengan lantang dan teguh. Nilai-nilai kita adalah kekuatan kita, dan kita tidak bisa acuh tak acuh dan ikut terlibat ketika nilai-nilai itu dirusak atau diserang," tegas McGovern dalam pernyataannya pekan lalu.

Khashoggi menghilang secara misterius setelah masuk ke Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu. Kekhawatiran semakin memuncak bahwa Khashoggi dibunuh di Konsulat Saudi. Otoritas Saudi berulang kali membantah terlibat kasus hilangnya Khashoggi. Namun laporan berbagai media, yang mengutip sumber-sumber pejabat Turki, menyebut adanya bukti rekaman audio dan video yang menunjukkan Khashoggi dibunuh secara keji sesaat usai masuk ke Konsulat Saudi, dua pekan lalu.

Selain McGovern, sejumlah anggota parlemen AS lainnya juga menyerukan langkah tegas untuk Saudi. Mereka menyatakan sanksi-sanksi perlu dijatuhkan untuk Saudi, jika terbukti Khashoggi telah dibunuh. Senator senior dari Partai Republik, Lindsey Graham, memperingatkan bahwa akan ada 'kemurkaan besar' jika benar Khashoggi dibunuh.


Menurut laporan situs berita Intercept, RUU itu diajukan ke HOR pada Selasa (16/10) lalu. RUU itu disponsori oleh enam anggota parlemen Partai Demokrat dan dua anggota parlemen Partai Republik. Senator Republikan, John Kennedy, menegaskan bahwa Saudi harus dikecam jika terbukti mereka ada di balik hilangnya Khashoggi.

"Anda bisa mengusir diplomat. Anda bisa merilis resolusi PBB. Anda bisa membatasi penjualan senjata. Anda bisa menjatuhkan sanksi pada individu-individu. Kebijakan luar negeri kita harus kuat didasarkan pada nilai-nilai, itulah Amerika," tegasnya.

Beberapa waktu lalu, Presiden Donald Trump mengindikasikan keengganannya untuk menghentikan penjualan senjata Saudi atau memblokir investasi Saudi di AS. Trump mengaku khawatir bahwa Saudi akan memindahkan aliran dana ke Rusia dan China, jika hal itu terjadi.

"Mereka (Saudi-red) menghabiskan US$ 110 miliar untuk perlengkapan militer dan pada hal-hal yang menciptakan lapangan kerja ... untuk negara ini. Saya tidak suka konsep menghentikan investasi US$ 110 miliar ke Amerika Serikat, karena Anda tahu apa yang akan mereka lakukan? Mereka akan mengambil uang itu dan menghabiskannya di Rusia atau China atau tempat lain," ucap Trump seperti dilansir Reuters.


Saksikan juga video 'Dugaan-dugaan Mengerikan Kasus Hilangnya Khashoggi':

[Gambas:Video 20detik]


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed