Baik Trump maupun Kim Jong-Un telah sama-sama menyatakan keinginan untuk mewujudkan denuklirisasi di Semenanjung Korea. Keduanya menggelar pertemuan puncak pada Juni lalu di Singapura untuk membahas gagasan itu. Sebelum pertemuan bersejarah itu digelar, Trump dan Kim Jong-Un diketahui kerap saling melontarkan ancaman dan hinaan.
Beberapa waktu terakhir, Trump melontarkan rencana pertemuan kedua antara dirinya dan Kim Jong-Un. Di tengah keraguan bahwa denuklirisasi bisa sungguh terwujud, Trump selalu membanggakan hubungannya dengan Kim Jong-Un yang diklaimnya sangat baik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dan kemudian kami jatuh cinta, oke?" ujar Trump.
"Tidak, ini sungguh-sungguh -- dia menulis surat-surat yang indah untuk saya dan surat-surat itu sangat hebat," imbuhnya.
Pendukung Trump tertawa dan bertepuk tangan mendengar klaim Trump itu. Trump juga memprediksi bahwa para pengkritik akan menyebutnya 'tidak presidensial' karena menggambarkan Kim Jong-Un dengan istilah-istilah baik.
Diketahui bahwa saat ini pemerintahan Trump sedang mempersiapkan pertemuan kedua antara Trump dan Kim Jong-Un untuk membahas denuklirisasi. Waktu dan lokasi pertemuan kedua ini belum diumumkan.
Terlepas dari rencana itu, diketahui bahwa Korut sebenarnya belum memenuhi permintaan AS untuk memberikan daftar lengkap persenjataannya dan mengambil langkah untuk menyerahkan persenjataannya.
Tiga pejabat senior AS yang enggan disebut identitasnya menyatakan pekan ini, sama sekali tidak ada kemajuan yang dicapai terkait perundingan serius dalam menghapuskan atau menghentikan persenjataan nuklir dan program rudal balistik Korut.
Tonton juga 'Trump Puji Kim Jong Un, Tapi Sanksi Buat Korut Tetap Jalan':
(nvc/ita)










































