DetikNews
Rabu 12 September 2018, 11:15 WIB

Penyakit Misterius Diplomat AS di Kuba, Rusia Jadi Tersangka Utama

Novi Christiastuti - detikNews
Penyakit Misterius Diplomat AS di Kuba, Rusia Jadi Tersangka Utama Kedubes AS di Havana, Kuba (AFP Photo/YAMIL LAGE)
Washington DC - Rusia menjadi tersangka utama yang diduga menyebabkan penyakit misterius yang diderita puluhan diplomat Amerika Serikat (AS) di Kuba dan China. Hal ini terungkap dalam penyelidikan otoritas AS, yang melibatkan Biro Investigasi Federal (FBI) dan Badan Intelijen Pusat (CIA).

Dituturkan tiga sumber pejabat AS yang tidak disebut identitasnya dan dua orang yang memahami penyelidikan itu, seperti dilaporkan NBC dan dilansir Reuters, Rabu (12/9/2018), bukti yang didapat dari penyadapan komunikasi menunjukkan keterlibatan Rusia dalam insiden itu.

Namun menurut NBC, bukti itu belum cukup konklusif bagi otoritas AS untuk secara terang-terangan menyalahkan Rusia terkait insiden di Kuba dan China. Baik FBI maupun CIA tidak bersedia mengomentari laporan NBC itu.


Sebelumnya pada Juli lalu, para pejabat AS menuturkan bahwa mereka masih menyelidiki masalah kesehatan yang menyelimuti diplomat dan staf Kedutaan Besar (Kedubes) AS di Kuba. Saat itu, mereka menyatakan tidak tahu pasti siapa atau pihak mana yang mendalangi penyakit misterius itu.

Insiden penyakit misterius itu mulai muncul sejak tahun 2016 dan telah mengenai 26 diplomat Amerika juga keluarga mereka.

Gejala yang dirasakan para korban antara lain kehilangan pendengaran, telinga berdenging, vertigo, sakit kepala dan kelelahan. Pejabat Departemen Luar Negeri AS menyebut gejala-gejala itu memiliki pola yang konsisten dengan 'cedera otak traumatis ringan'.

Pada Juni lalu, sejumlah diplomat AS dipulangkan dari Guangzhou, China setelah menderita penyakit misterius yang tak jauh berbeda dengan insiden di Kuba. Penyelidikan terkait insiden di Kuba juga diselidiki sendiri oleh otoritas Kuba, yang telah menyangkal keterlibatan dalam insiden itu.


Dilaporkan NBC bahwa saat ini AS meyakini senjata elektromagnetik canggih digunakan terhadap para pegawai pemerintahan, yang mungkin dikombinasikan dengan teknologi lainnya. Dalam pernyataan terpisah, para dokter dan ilmuwan yang telah memeriksa para korban meyakini penggunaan senjata gelombang mikro yang tidak lazim dalam serangan misterius itu.

Sementara itu, militer AS dilaporkan tengah berupaya melakukan reverse-engineer terhadap senjata yang diduga digunakan untuk menyerang para diplomat, termasuk dengan menguji coba berbagai alat pada binatang percobaan. Hal itu disampaikan pejabat pemerintahan Trump kepada NBC.

Sebagian upaya tengah dilakukan di kantor program riset energi yang ada di Pangkalan Udara Kirtland, New Mexico, yang memiliki laser raksasa dan laboratorium untuk menguji coba senjata elektromagnetik canggih, termasuk senjata gelombang mikro.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed