DetikNews
Senin 03 September 2018, 17:40 WIB

Penyakit Misterius Diplomat AS Diduga dari Senjata Gelombang Mikro

Novi Christiastuti - detikNews
Penyakit Misterius Diplomat AS Diduga dari Senjata Gelombang Mikro Ilustrasi (Dok. Anadolu Agency)
Washington DC - Penyelidikan terhadap serangan misterius yang membuat puluhan diplomat Amerika Serikat (AS) dan keluarganya di Kuba dan China tiba-tiba jatuh sakit, masih berlanjut. Kecurigaan semakin meningkat bahwa hal itu dipicu penggunaan senjata gelombang mikro yang tidak lazim.

Dalam kasus ini, para korban melaporkan suara high-pitch yang intens yang terdengar dari kamar hotel juga kediaman mereka. Beberapa saat usai mendengar suara misterius itu, para korban mengalami gejala-gejala seperti mual, sakit kepala parah, kelelahan, pusing, susah tidur dan kehilangan pendengaran.

Dilaporkan New York Times (NYT) dan dilansir AFP, Senin (3/9/2018), kecurigaan yang meningkat soal penggunaan senjata gelombang mikro itu diungkapkan oleh para dokter dan ilmuwan yang telah memeriksa para korban.


Pengarang kajian pada Jurnal Asosiasi Medis Amerika yang dirilis Maret lalu, Douglas Smith, mengungkapkan dugaan itu dalam analisisnya kepada NYT. Smith diketahui menjabat Direktur Pusat Cedera dan Perbaikan Otak pada University of Pennsylvania.

Disebutkan Smith bahwa senjata gelombang mikro tak lazim kini dipertimbangkan sebagai penyebab utama serangan misterius di Kuba dan China itu. "Awalnya, semua orang relatif skeptis," sebut Smith dalam pernyataannya. "Dan sekarang semua orang sepakat ada sesuatu di sana," imbuhnya.

Dugaan soal penggunaan senjata gelombang mikro yang tak lazim itu belum pernah disebut oleh Departemen Luar Negeri AS maupun Biro Federal Investigasi (FBI). NYT dalam artikelnya menyebut masih banyak pertanyaan yang belum terjawab soal siapa yang mendalangi serangan misterius dan apa motifnya.


Otoritas AS telah menyatakan pemerintah Kuba bertanggung jawab, baik atas mendalangi serangan misterius itu atau gagal melindungi personel diplomatik AS di wilayahnya. Pada September 2017, otoritas AS menarik pulang lebih dari separuh staf diplomatiknya dari Kedutaan Besar (Kedubes) AS di Kuba dan mengusir 15 diplomatik Kuba di Washington. Pemerintah Kuba telah menyangkal terlibat, atau mengetahui, serangan misterius itu.

Pada Juni 2018, otoritas AS juga memulangkan sejumlah personel diplomatiknya dari China, setelah laporan insiden serupa mencuat.


(nvc/bag)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed