DetikNews
Selasa 21 Agustus 2018, 16:14 WIB

Material Radioaktif Hilang, Malaysia Yakin Tak Terkait Teroris

Novi Christiastuti - detikNews
Material Radioaktif Hilang, Malaysia Yakin Tak Terkait Teroris Ilustrasi (AFP Photo/Joshua Lott)
Kuala Lumpur - Material radioaktif yang hilang di Malaysia masih dalam pencarian kepolisian. Sejauh ini, belum ada tanda-tanda bahwa alat industri seberat 23 kilogram yang mengandung radioaktif itu jatuh ke tangan teroris.

"Sejauh ini, tidak ada tanda-tanda sama sekali soal keterkaitan antara hilangnya alat (mengandung radioaktif) itu dengan aktivitas teroris," tegas Kepala Kepolisian Selangor, Mazlan Mansor, dalam pernyataannya seperti dilansir Channel News Asia, Selasa (21/8/2018).

Alat industri yang mengandung material radioaktif itu hilang saat dibawa dengan truk pikap ke Shah Alam, pinggiran Kuala Lumpur, pada 10 Agustus lalu. Alat itu dibawa dari kota Seremban, yang berjarak 60 kilometer dari Shah Alam.


Alat industri bernama Radioactive Dispersal Device (RDD) itu mengandung material radioaktif jenis Iridium 192 yang jumlahnya tidak diketahui pasti. Iridium merupakan salah satu unsur kimia berbentuk logam putih, keras namun rapuh dan berkilat. Alat industri semacam itu biasa digunakan dalam radiografi industri.

Penyelidikan terhadap insiden ini tengah dilakukan oleh otoritas setempat. Kronologi hilangnya alat industri yang mengandung radioaktif ini tak diketahui pasti.

Dua pegawai pada perusahaan pemilik alat industri yang hilang itu, sempat ditangkap polisi, namun kemudian dibebaskan karena kurang bukti. Kepala Kepolisian Federal Malaysia, Inspektur Jenderal Polisi Mohamad Fuzi Harun, menyatakan keduanya dibebaskan setelah diminta keterangannya.


Ditambahkan Mohamad Fuzi bahwa insiden semacam ini bukan yang pertama kali terjadi di Malaysia. "Insiden ini bukan yang pertama kali dan dipahami bahwa insiden semacam ini juga terjadi tahun lalu," sebutnya tanpa menjelaskan lebih lanjut, seperti dilansir kantor berita Bernama.

Otoritas Malaysia mengkhawatirkan hilangnya material radioaktif seperti ini bisa memicu paparan radiasi atau digunakan sebagai senjata oleh militan setempat.

Sementara itu, Badan Atom Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau IAEA pernah memperingatkan bahwa setiap material radioaktif yang hilang atau dicuri bisa saja jatuh ke tangan kelompok militan yang ingin memproduksi senjata nuklir atau yang disebut sebagai 'dirty bomb'. Bom itu mengkombinasikan material nuklir dengan peledak konvensional untuk mengontaminasi sebuah area dengan radiasi.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed