DetikNews
Senin 16 Juli 2018, 11:29 WIB

Anggota Pussy Riot Ganggu Final Piala Dunia 2018, Siapa Mereka?

Rita Uli Hutapea - detikNews
Anggota Pussy Riot Ganggu Final Piala Dunia 2018, Siapa Mereka? anggota Pussy Riot masuk ke lapangan saat final Piala Dunia (Foto: Reuters)
Moskow - Pertandingan final Piala Dunia 2018 sempat diganggu dengan aksi suporter yang masuk lapangan. Mereka ternyata adalah anggota band punk asal Rusia bernama Pussy Riot. Band apa itu?

Pussy Riot merupakan grup musik punk rock perempuan asal Moskow, Rusia. Grup ini dikenal akan pentas-pentas pertunjukan dadakan politik provokatifnya mengenai kehidupan politik Rusia di lokasi-lokasi yang tidak biasa, termasuk di halaman gereja atau di dalam bus.




Pussy Riot mulai dikenal secara global karena sikap mereka yang terang-terangan menentang Presiden Rusia Vladimir Putin pada tahun 2012. Saat itu, seperti dilansir media CNN, Senin (16/7/2018), tiga anggota Pussy Riot didakwa dengan hooliganisme dan divonis penjara 2 tahun karena membawakan lagu "Punk Prayer" yang berisi protes terhadap Putin di depan gereja ortodoks, Christ Savior Cathedral di Moscow.

Satu dari ketiga orang itu mendapat penangguhan penahanan setelah mengajukan banding, namun dua lainnya dihukum penjara hingga bebas pada Desember 2013. Sejak itu, mereka terus menjadi pengkritik vokal Putin dan pemerintahannya.

Selain dikenal sebagai anti-Putin, band ini juga dikenal vokal menyuarakan berbagai isu sosial, mulai dari LGBT, kediktatoran dan lainnya.



Kejar-kejaran Band Punk Rusia di Final Piala Dunia, tonton videonya di sini:

[Gambas:Video 20detik]



Dalam final Piala Dunia 2018 pada Minggu (15/7), empat suporter masuk lapangan di babak kedua pertandingan antara Prancis vs Kroasia. Berhasil menerobos pengamanan, mereka berlari sampai ke tengah lapangan di antara para pemain. Aksi keempat suporter penerobos itu tak berlangsung lama. Mereka langsung bisa diamankan dan diseret keluar.

Beberapa saat setelah kejadian itu, band Pussy Riot mengklaim bertanggung jawab. Lewat statemen yang diposting di Twitter dan Facebook, band tersebut mengirimkan pesan sekaligus sejumlah tuntutan terkait aksi yang mereka lakukan. Pussy Riot menyerukan pembebasan para tahanan politik, penghentian penangkapan demonstran oposisi dan penghentian penangkapan warga karena aktivitas media sosial mereka. Mereka juga menuntut "kompetisi politik" yang lebih terbuka di Rusia. Tuntutan ini terkait dengan Putin yang telah mendominasi dunia politik Rusia selama bertahun-tahun, dan kembali memenangkan kursi presiden untuk periode jabatan keempat.


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed