Cendekiawan Muslim Ditangkap Usai Rilis Buku Kritik Arab Saudi

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 13 Jul 2018 14:52 WIB
Ilustrasi (Dok. Anadolu Agency)
Riyadh - Otoritas Arab Saudi menangkap cendekiawan muslim berpengaruh, Safar al-Hawali, bersama tiga putranya. Penangkapan ini terjadi setelah Hawali merilis sebuah buku yang isinya kritis terhadap keluarga Kerajaan Saudi.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (13/7/2018), kabar penangkapan Al-Hawali ini diungkapkan oleh ALQST, kelompok pembela HAM Saudi yang berkantor di London, Inggris. Aktivis HAM dari ALQST, Yahya Assiri, menuturkan kepada Reuters bahwa Al-Hawali ditangkap pada Rabu (11/7) lalu.

Disebutkan juga oleh ALQST bahwa Al-Hawali ditangkap setelah dia merilis sebuah buku yang kritis terhadap keluarga Kerajaan Saudi. Sosok Al-Hawali sendiri dikenal kerap mengkritik Kerajaan Saudi di masa lalu.


Satu kelompok aktivis HAM lainnya juga melaporkan penangkapan Al-Hawali, dengan mengutip sumber-sumber yang dekat dengannya.

Otoritas Saudi belum memberikan konfirmasi maupun tanggapan terkait laporan penangkapan itu. Ditegaskan otoritas Saudi sebelumnya bahwa mereka tidak memiliki tahanan politik. Meskipun sejumlah pejabat senior Saudi menyebut pemantauan para aktivis diperlukan untuk menjaga stabilitas sosial.

Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), banyak dipuji atas reformasi ekonomi dan sosial yang dipimpinnya. Namun ada kekhawatiran soal penahanan para aktivis wanita yang memperjuangkan HAM dan operasi antikorupsi rahasia yang diluncurkannya tahun lalu.

Para pengkritik menyebut MBS tidak melakukan banyak hal untuk membebaskan politik di Saudi, di mana keluarga kerajaan menikmati kekuasaan penuh. Dia juga dituding sengaja menargetkan pihak-pihak yang menentang dirinya.


Sosok Al-Hawali sendiri mencuat sejak 25 tahun lalu sebagai pemimpin gerakan Sahwa. Gerakan yang dipimpin Al-Hawali itu menyerukan agar demokrasi ditegakkan di Saudi dan mengkritik keluarga kerajaan Saudi atas korupsi, liberalisasi sosial dan bekerja sama dengan Barat.

Al-Hawali pernah dipenjara tahun 1990-an saat marak operasi pemberantasan militan, namun dia dibebaskan setelah berhenti melontarkan kritikan. Usai Amerika Serikat (AS) menginvasi Irak tahun 2003, Al-Hawali turut mendukung seruan 'jihad' anti-AS namun juga mengecam serangan militer terhadap warga asing di Saudi.

Gerakan Sahwa mulai melemah setelah mendapat penindasan dari banyak pihak, namun tetap aktif. Diketahui bahwa keluarga Kerajaan Saudi selalu menanggap kelompok militan sebagai ancaman internal terbesar bagi kekuasaannya.

(nvc/bag)