DetikNews
Kamis 12 Juli 2018, 19:06 WIB

Zakir Naik: Saya Utang Budi pada Malaysia, Tak Akan Langgar Hukum

Novi Christiastuti - detikNews
Zakir Naik: Saya Utang Budi pada Malaysia, Tak Akan Langgar Hukum Zakir Naik (Dok. detikcom/Grandyos Zafna)
Kuala Lumpur - Ulama kontroversial Zakir Naik mengucapkan terima kasih pada pemerintahan Malaysia karena tidak mendeportasi dirinya ke India. Zakir Naik menyebut dirinya berutang budi pada Malaysia dan berjanji tidak akan melanggar hukum.

Seperti dilansir Malay Mail, Kamis (12/7/2018), janji itu disampaikan Zakir Naik dalam pernyataan yang disampaikan melalui ajudannya. Diketahui bahwa ulama kelahiran Mumbai, India ini merupakan seorang permanent resident di Malaysia.

"Saya berterima kasih pada pemerintah Malaysia karena memeriksa isu ini dari sudut pandang yang tidak memihak, dan Perdana Menteri Tun Dr Mahathir Mohamad atas keputusannya mengizinkan saya tinggal di sini, selama saya terus mematuhi hukum dan mendukung perdamaian dan keselarasan di negara ini," ucap Zakir Naik dalam pernyataannya.

Diketahui bahwa Zakir Naik diburu otoritas India atas dugaan aktivitas-aktivitas terkait teror. Pekan lalu, Mahathir menegaskan Zakir Naik tak akan diekstradisi. Hal itu disampaikan Mahathir sehari setelah pemerintah India mengkonfirmasi pihaknya meminta Malaysia mengekstradisi Zakir Naik.

"Selama dia tidak membuat masalah apapun, kami tak akan mendeportasi dia karena dia telah mendapatkan status permanent resident," ujar Mahathir Mohamad saat konferensi pers di Putrajaya, Malaysia, pada 6 Juli lalu.


Dalam pernyataannya, Zakir Naik menyatakan kekecewaannya atas pemberitaan berbagai media lokal Malaysia. Dia menyebut pemberitaan yang mengaitkan dirinya dengan aktivitas-aktivitas terkait teror dan menudingnya menyampaikan pidato kebencian, telah menodai citranya.

"Beberapa bagian media menyerang saya untuk hal yang disebut 'penghasutan teror', dan akan menjadi naif untuk tidak berasumsi bahwa hal ini dilakukan dengan tujuan lebih luas untuk memberi kesan jahat pada Islam dan umat muslim," sebutnya.

"Mereka tidak mampu untuk menemukan bukti melawan saya, sehingga mengerahkan sejumlah video klip yang direkayasa, kutipan-kutipan di luar konteks dan skema tidak jujur untuk menuding saya atas terorisme, pidato kebencian dan bahkan pencucian uang," imbuh Zakir Naik.


Ditegaskan oleh Zakir Naik bahwa tidak ada satupun pidatonya yang ditentang warga non-muslim di India, hingga tahun 2012 saat kelompok yang disebutnya 'fanatik agama' berupaya mencoreng citranya. Zakir Naik bersikeras tidak pernah menyerukan teror dengan menggunakan ajaran Islam selama 25 tahun memberi ceramah. Dia memuji persatuan dan keberagaman di Malaysia dan berterima kasih karena diizinkan menjadi bagiannya.

"Saya merasa terhormat menjadi bagian dari keberagaman ini, dan saya juga menyadari sensitivitas yang mengikutinya. Saya tidak akan pernah merusak atau membahayakan keseimbangan ini dalam cara apapun, atau melanggar aturan hukum di negara ini, karena kepedulian utama saya adalah menjaga keselarasan sosial yang saat ini dirasakan warga Malaysia," ujarnya.

"Terakhir, sementara saya berharap keadilan dan perdamaian kembali di tanah asal saya, India, saya tetap berutang budi pada Malaysia -- bukan hanya sebagai orang yang mencari perlakuan adil, tapi juga sebagai individu yang cinta kemanusiaan," tandas Zakir Naik.


Zakir Naik dikabarkan meninggalkan India tahun 2016 dan pindah ke Malaysia hingga mendapatkan status tinggal resmi atau permanent resident. Di negara asalnya, dia dituduh soal radikalisme dan pendanaan kegiatan teroris. Dalam wawancara dengan detikcom beberapa waktu lalu, Zakir mengakui bahwa dirinya memang dituduh mempromosikan terorisme dan bahkan dilabeli teroris.


(nvc/bag)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed