Satu Lagi Wali Kota di Filipina Tewas Ditembak Pria Bersenjata

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 04 Jul 2018 16:18 WIB
Ferdinand Bote (Facebook via CNN)
Manila - Satu lagi Wali Kota di Filipina tewas ditembak oleh pria bersenjata tak dikenal. Ferdinand Bote yang merupakan Wali Kota General Tinio tewas ditembak di jalanan setempat.

Dituturkan kepolisian setempat seperti dilansir CNN dan Reuters, Rabu (4/7/2018), penembakan terjadi saat Bote (57) dan sopirnya baru saja meninggalkan kantornya di kota General Tinio, Provinsi Nueva Ecija pada Selasa (3/7) waktu setempat.

Kepala Kepolisian General Tinio, Adrian Gabriel, menuturkan bahwa kendaraan yang ditumpangi Bote tiba-tiba didekati seorang pria bersenjata yang mengendarai sepeda motor. Pria bersenjata itu menembak Bote beberapa kali.

"Dia (Bote-red) berulang kali ditembak dengan menggunakan senjata api laras pendek," sebut kepolisian dalam laporannya.


Sopir Bote dilaporkan berhasil menyelamatkan diri tanpa menderita luka-luka. Polisi menemukan sedikitnya 18 selongsong peluru kosong di lokasi penembakan.

Bote dinyatakan telah meninggal dunia saat dibawa ke rumah sakit MV Gallego. Terdapat sejumlah luka tembak di tubuh Bote.

Pelaku penembakan masih belum diketahui identitasnya. Penyelidikan atas insiden ini masih dilakukan otoritas setempat. Pemerintah Filipina menegaskan akan mengusut tindak kejahatan ini hingga ke akarnya.

Pembunuhan terhadap Bote ini terjadi berdekatan dengan tewasnya Wali Kota Tanauan, Antonio Halili (72). Dia tewas terkena tembakan tunggal di bagian dada saat menghadiri upacara bendera pada Senin (2/7) lalu, saat siang hari bolong. Pelaku yang menembak mati Halili disebut melepas tembakan dari jarak 150 meter. Dugaan menyebut Halili ditembak oleh seorang sniper atau penembak jitu.


Semasa hidup, Halili dikenal sebagai sekutu kontroversial Presiden Rodrigo Duterte dalam menegakkan kebijakan memerangi narkoba. Tahun 2016, Halili pernah mengarak sejumlah tersangka narkoba di jalanan Tanauan.

Namun tahun 2017, Halili masuk dalam 'daftar narkotika' yang diajukan Duterte. Daftar itu berisi nama-nama pejabat Filipina yang diduga terkait kejahatan narkoba. Halili kehilangan kendali atas kepolisian di wilayahnya usai daftar itu dirilis, namun dia menyangkal terlibat kejahatan narkoba.

Bote tercatat sebagai pejabat lokal ke-12 yang tewas dibunuh sejak Duterte menggaungkan kebijakan memerangi narkoba dengan kekerasan yang banyak menuai kritik. Tidak diketahui pasti apakah kematian Bote dan Halili ini saling terkait.

(nvc/ita)