DetikNews
2018/06/23 14:20:44 WIB

Pemilu Kali Ini Tantangan Terbesar Erdogan Usai Berkuasa 15 Tahun

Novi Christiastuti - detikNews
Halaman 1 dari 2
Pemilu Kali Ini Tantangan Terbesar Erdogan Usai Berkuasa 15 Tahun Rccep Tayyip Erdogan (REUTERS/Osman Orsal)
Ankara - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah mendominasi perpolitikan Turki selama 15 tahun terakhir. Pemilu yang akan digelar 24 Juni besok akan menjadi tantangan pemilu terbesar bagi Erdogan.

Erdogan (64) yang merupakan kandidat incumbent, diketahui sudah menjabat Presiden Turki sejak tahun 2014. Sebelum itu, Erdogan menjabat Perdana Menteri (PM) Turki dari tahun 2003 hingga tahun 2014. Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang menaunginya telah memenangkan pemilu sejak tahun 2002. CNN menyebut Erdogan sebagai pemimpin Turki yang paling lama menjabat sejak negara itu terbentuk tahun 1923.


Dalam pemilu yang digelar Minggu (24/6) besok, warga Turki akan memiliki presiden dan anggota parlemen. Seperti dilansir Reuters, Sabtu (23/6/2018), pemilu tahun ini menjadi salah satu yang terpenting dalam sejarah modern Turki. Sebabnya, pemenang pilpres nantinya akan memiliki kekuasaan eksekutif baru di bawah referendum konstitusi tahun lalu, yang memutuskan menghapus peran PM dan memusatkannya ke Presiden.

Dengan mengumumkan pemilu digelar lebih awal pada 24 Juni besok -- awalnya dijadwalkan November 2019, Erdogan terkesan ingin mempersulit lawan-lawan politiknya. Namun lawan-lawan politik Erdogan mulai mendapatkan momentum dengan pencalonan Muharrem Ince (54), bulan lalu.

Ince menjadi capres Partai Rakyat Republik (CHP), yang merupakan partai oposisi terbesar Turki. Sosok Ince menarik perhatian banyak warga Turki karena karisma dan kemampuan orasinya yang dibanding-bandingkan dengan Erdogan. Dia bahkan menantang Erdogan berdebat secara terbuka.


Erdogan menyebut Ince sebagai 'magang' dan menyebutnya kurang berpengalaman. Namun sebuah video yang beredar luas di media sosial menunjukkan Erdogan menyatakan menang pemilu tahun ini 'tidaklah mudah'. Bahkan dalam wawancara pekan ini, Erdogan memunculkan kemungkinan terbentuknya pemerintahan koalisi, jika partainya kehilangan dominasi dalam parlemen.

"Erdogan tidak bisa mempengaruhi pemilu kali ini. Dia berusaha tapi dia tidak mampu," sebut jurnalis ternama Turki, Rusen Cakir, yang telah mengikuti perjalanan karier Erdogan selama bertahun-tahun.

Erdogan selalu mengonsolidasikan kekuasaan di setiap langkah politiknya. Dia membubarkan unjuk rasa antipemerintah, tahun 2013 dia lolos dari penyelidikan korupsi terhadap orang-orang dekatnya. Setelah upaya kudeta gagal melengserkannya tahun 2016, Erdogan menyisihkan lawan-lawannya dengan memecat puluhan ribu pegawai pemerintah, merombak institusi publik, memenjarakan para pengkritik dan membungkam media.


Saat referendum konstitusi tahun lalu untuk mengubah sistem parlementer Turki ke sistem presidensial, Erdogan menang tipis.

Namun mantra-mantra pembangunan dan pertumbuhan yang selalu digaungkan Erdogan selama ini, mulai kehilangan kemasyhurannya. Rakyat Turki mulai merasakan kondisi perekonomian yang tak stabil. Nilai tukar mata uang Turki, Lira, merosot 20 persen sejak awal tahun. Inflasi naik ke level 12 persen dan suku bunga berada di angka 18 persen. Sejumlah pemilih di Turki merasa lelah dengan situasi ini.

"Ini adalah situasi di mana Erdogan tidak bisa menyalahkan siapapun. Ini bukan seperti pemerintah dikendalikan orang lain jadi dia bisa berbalik dan berkata 'pilih saya agar saya bisa meningkatkan perekonomian'. Ini adalah titik lemahnya dan dia tahu itu," ucap Asli Aydintasbas, peneliti senior pada Divisi Hubungan Internasional pada Dewan Eropa.
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed