DetikNews
Selasa 12 Juni 2018, 11:43 WIB

Saling Caci dan Nyinyir Trump-Jong Un Hingga Akhirnya Bertemu

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Saling Caci dan Nyinyir Trump-Jong Un Hingga Akhirnya Bertemu Kim Jong Un dan Donald Trump tampak akrab saat bertemu. Foto: Reuters
Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akhirnya bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un. Sebelumnya kedua pemimpin negara nuklir ini saling 'balas pantun' cacian, bahkan sebelum Trump resmi jadi Presiden AS.

"Saya pikir seluruh dunia menyaksikan momen ini. Banyak orang di dunia akan berpikir (pertemuan) ini sebagai adegan dari sebuah fantasi...dari sebuah film fiksi ilmiah," ucap Kim Jong-Un kepada Trump melalui seorang penerjemah, seperti dilansir CNN dan Reuters, Selasa (12/6/2018), komentar ini dilontarkan Kim Jong-Un kepada Trump saat keduanya berjalan bersama di koridor Hotel Capella, Pulau Sentosa, Singapura.

Kini kedua tokoh sarat kontroversi itu telah bertemu. Padahal sebelumnya mereka sempat saling ejek.

Waktu itu Trump masih jadi bakal calon Presiden AS, namun dia ditanya pendapat soal sosok Kim. Trump 'memuji' Kim yang dianggapnya sukses menyingkirkan lawan politik.

Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih.Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih. Foto: Dok. REUTERS/Joshua Roberts


"Anda harus memberinya pujian. Seberapa banyak anak muda -- dia sepertinya berusia 26 atau 25 tahun ketika ayahnya meninggal -- mengambil alih dari jenderal-jenderal tangguh, dan tiba-tiba... dia masuk, dia mengambil alih, dia menjadi bos," sebut Trump merujuk pada Kim Jong Un, seperti dilansir media Inggris, The Telegraph, Senin (11/1/2016).

Komentar Trump ini merujuk pada kabar eksekusi mati paman Kim Jong Un, Jang Song Thaek, yang merupakan istri dari adik perempuan ayah Kim Jong Un. Pada 12 Desember 2013, dikabarkan Jang Song Thaek (67) dihukum mati atas tuduhan berniat menggulingkan keponakannya itu dari kursi pemimpin Korut, termasuk merencanakan kudeta militer. Tapi pujian ini agaknya cenderung nyinyir.

"Ini luar biasa. Dia menyingkirkan pamannya, dia menyingkirkan orang ini, orang itu. Maksud saya, pria ini tidak main-main. Dan kita tidak bisa macam-macam dengannya," ujar Trump.

Trump yang Duluan Ingin Bertemu Kim

Tak lama kemudian, Trump langsung menyatakan ingin bicara langsung dengan Kim. Trump mengaku tak masalah dengan hal itu. Namun saat itu, pihak Korea Utara menolak keinginan Trump.

Pihak Korut kemudian memuji Trump dan menyebut miliarder itu sebagai sosok yang tepat bagi warga AS. Akhirnya Trump pun terpilih jadi Presiden AS pada akhir 2016 dan dilantik pada Januari 2017.

Kabar tentang Kim yang ingin bertemu Trump mencuat dari seorang diplomat Korut yang membelot, Thae Yong Ho. Thae sebelumnya bertugas selama 20 tahun di London hingga akhirnya membelot.

"Dia (Kim Jong Un) melihatnya sebagai kesempatan baik baginya untuk membuka semacam kompromi dengan pemerintahan Amerika yang baru," sebut Thae seperti dilansir CNN, Rabu (25/1/2017).

Kim Menguji Coba Nuklir, Trump Bereaksi

Pada awal 2017, Korut di bawah pimpinan Kim Jong-Un melakukan uji coba nuklir. Trump pun bereaksi atas sikap Kim.

Kim Jong-Un. Kim Jong-Un. Foto: Istimewa The Richest


"Tindakannya sangat, sangat buruk," ucap Trump kepada wartawan ketika meninggalkan Mar-a-Lago resort di Florida seperti dilansir Reuters, Senin (20/3/2017).

Korut lantas 'membalas' Trump dengan mengecam sikap AS menyerang Suriah dengan rudal pada April 2017. Rupanya aksi AS itu kemudian seakan jadi pembenaran bagi Korut untuk mengeluarkan nuklir. Korut kemudian mengancam AS dengan nuklir jika negeri Paman Sam itu terus melakukan 'provokasi'.

Meski Korut sudah mulai pamer nuklir, namun Trump masih ingin bertemu dengan Kim. Trump mengaku merasa terhormat jika bisa bertemu dengan Kim.

"Jika memang layak bagi saya untuk bertemu dengannya, tentu saja saya akan menemuinya. Saya akan merasa terhormat," ujar Trump dalam sebuah wawancara, Selasa (2/5/2017).

Namun saat berbincang dengan Presiden Filipina Rodrigo Duterte, Trump menyebut Kim sebagai orang gila dengan senjata nuklir. Menurut Trump, Kim tak bisa dibiarkan begitu saja.

"Kita tak bisa membiarkan orang gila dengan senjata nuklir berkeliaran seperti itu. Kita punya banyak senjata, lebih banyak dari yang dia punya, 20 kali lipat - namun kita tak ingin menggunakan itu," ujar Trump menurut transkrip percakapan yang dirilis media AS seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (24/5/2017).

Korut Meluncurkan Rudal Balistik dan Ancam AS

Juli 2017, Korut meluncurkan rudal balistik antarbenua. Trump lantas menilai tindakan ini akan semakin mengucilkan Korut dari dunia.

"Dengan mengancam dunia, senjata-senjata ini dan uji coba-uji coba lebih lanjut akan semakin mengucilkan Korea Utara, melemahkan ekonominya dan merugikan rakyatnya," ujar Trump dalam pernyataan tertulis seperti dilansir CNN, Sabtu (29/7/2017).

Seakan tak peduli dengan penilaian Trump, Kim lantas menegaskan bahwa seluruh daratan AS berada dalam jangkauan rudal Korut. Agaknya ini merupakan gertakan dari Kim.

Kantor berita pemerintah Korut, KCN, melaporkan: "Pemimpin (Kim Jong-un) mengatakan dengan bangga bahwa uji tersebut memastikan bahwa seluruh wilayah daratan AS berada dalam jangkauan serangan kami."

"Korut sebaiknya tidak lagi membuat ancaman-ancaman untuk Amerika Serikat," kata Trump seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (9/8/2017). "Mereka akan disambut dengan api, kemarahan dan jujur saja, kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya di dunia," tegas Trump.

Korut Berniat Menyerang Pangkalan AS di Guam

Lagi-lagi, Kim tak menggubris reaksi Trump. Korut kemudian mengancam akan menyerang pangkalan AS di Guam. Situasi AS dan Korut memanas pada Agustus 2017 itu.

"Jika dia mengucapkan satu ancaman dalam bentuk ancaman terbuka -- yang telah dia ucapkan selama bertahun-tahun dan keluarganya telah mengucapkannya selama bertahun-tahun -- atau dia melakukan apapun menyangkut Guam atau tempat lain manapun yang merupakan wilayah Amerika atau sekutu Amerika, dia akan sangat menyesali itu dan dia akan cepat menyesalinya," kata Trump kepada para wartawan di resor golf miliknya di New Jersey seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (12/8/2017).

Rudal Korea Utara.Rudal Korea Utara. Foto: Reuters


Korut kemudian menunda serangan ke Guam. Trump memuji langkah tersebut.

"Kim Jong Un dari Korea Utara membuat keputusan yang sangat bijaksana dan beralasan," Trump menulis di Twitter, yang dikutip Reuters, Kamis (17/8/2017).

Kim Sebut Trump Gila, Trump Sebut Kim 'Sick-Puppy'

Saat berpidato di Sidang Umum PBB, September 2017, Trump mengejek Kim. Bahkan Trump menyebut Kim sedang dalam misi bunuh diri.

"Pria Roket sedang dalam misi bunuh diri untuk dia sendiri dan untuk rezimnya," cetus Trump mengejek ke Kim Jong-Un. "Amerika Serikat siap, bersedia dan mampu, namun diharapkan ini tak akan diperlukan," katanya lagi. Trump juga mengeluarkan ancaman untuk Korut.

Menanggapi pidato itu, Menteri Luar Negeri Korea Utara menyebut pidato Presiden Amerika Serikat, Donald Trump di Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) sebagai 'gonggongan anjing'. Bahkan Kim Jong-Un akhirnya ikut menanggapi.

"Sudah tentu dan pasti, saya akan menjinakkan pria tua AS yang bermental gila itu dengan api," tegas Kim Jong-Un dalam pernyataan langsung yang langka, seperti dikutip KCNA.

Trump kemudian memasukkan Korut sebagai salah satu negara sponsor terorisme. Tapi Trump masih berniat melakukan negosiasi dengan Korut.

"Seharusnya sudah dari dulu-dulu (menetapkan Korut sebagai negara sponsor terorisme). Seharusnya sudah sejak bertahun-tahun yang lalu," kata Trump seperti dilansir AFP, Selasa (21/11/2017).

Pertemuan Trump dan Kim di Singapura.Pertemuan Trump dan Kim di Singapura. Foto: Reuters


Sementara itu Korut terus memamerkan rudal milik mereka. Trump kemudian menyebut Kim sebagai 'sick-puppy'.

Korut kemudian merespons sikap Trump yang berniat memindahkan Kedubes AS di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem. Korut menyebut Trump sebagai lansia pikun.

Dalam wawancara terbaru dengan The Wall Street Journal (WSJ), seperti dilansir Reuters dan AFP, Jumat (12/1/2018), Trump tiba-tiba menyebut dirinya bisa menjalin hubungan baik dengan pemimpin muda Korut itu.

"Saya mungkin bisa memiliki hubungan yang sangat baik dengan Kim Jong-Un," ucap Trump dalam wawancara itu. "Saya memiliki hubungan dengan banyak orang. Saya pikir kalian semua terkejut," imbuhnya.

Akhirnya pada bulan Maret 2018, Trump mendapat undangan dari Kim untuk bertemu. Saat itu sudah direncanakan bahwa pertemuan akan berlangsung di bulan Mei 2018.
(bag/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed