DetikNews
Kamis 17 Mei 2018, 11:59 WIB

Dua Perempuan Hebat di Belakang Anwar Ibrahim

Sudrajat, Sapto Pradiptyo - detikNews
Dua Perempuan Hebat di Belakang Anwar Ibrahim Anwar Ibrahim diapit putri sulung, Nurul Izzah dan istri, Wan Azizah (Kolase Foto: Nadia Permatasari)
Jakarta -

"Perjuangan ini bukan mudah, perjuangan ini bukan murah. Ada air mata, keringat, dan kesedihan, dan terkadang pengorbanan. 20 tahun saya bertahan," kata Wan Azizah Wan Ismail disambut teriakan 'reformasi' dari ribuan pendukungnya dalam sebuah rapat akbar, Januari lalu.

Dua puluh tahun lalu, 1998, Wan Azizah memang lebih memposisikan sebagai ibu rumah tangga biasa. Sebelumnya, selama 14 tahun, dia dikenal sebagai dokter dan aktivis anti kanker. Tapi ketika suaminya dilantik menjadi wakil perdana menteri Malaysia pada 1993, dia memilih mundur dari semua kegiatan tersebut. Wan Azizah sepenuhnya berperan sebagai pendamping Anwar, sembari mengurusi kewajiban mengasuh keenam anaknya.

Kehidupan Wan Azizah berubah drastis ketika Anwar dicopot Mahathir Mohamad dari posisi wakil perdana menteri. Tak cuma itu, Anwar kemudian diseret kemudian dengan tuduhan korups. Juga tuduhan yang dirasakan amat menghina marwah suami, pribadi dan keluarganya. Ya, Anwar dituding melakukan sodomi terhadap stafnya.

Wan Azizah tak berpaling dari Anwar yang menikahinya pada 28 Februari 1980. Dia aktif melawan tudingan yang dianggapnya sebagai fitnah tersebut. Tak cuma itu, Azizah juga kemudian bermetamorfosis menjadi politisi. Pada 4 April 1999, dia ikut mendirikan dan menjadi Presiden Partai Keadilan Nasional (PKN).

Isu yang diperjuangkannya adalah reformasi negeri dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Isu ini yang menjadi concern dan telah diperjuangkan Anwar Ibrahim sejak menjadi wakil perdana menteri. Di facebook, kini jumlah fan Wan Azizah tercatat sekitar 1,1 juta dan di twitter followernya mencapai 362 ribu.

Lewat partai itu dia masuk parlemen pada 1999 hingga 2008. Tapi Wan Azizah tetap merasa sebagai istri ketimbang sepenuhnya politisi. Dia bekhidmat kepada negerinya, tapi bekhidmat kepada suami dirasakannya menjadi lebih utama. Pada akhir Juli 2008, Wan Azizah memutuskan mundur dari parlemen untuk memberi jalan bagi Anwar yang memenangkan pemilu pada 26 Agustus 2008.

Anwar Ibrahim bersama isteri, anak-anak, dan cucuAnwar Ibrahim bersama isteri, anak-anak, dan cucu Foto: Dok

Ketika Anwar kembali harus masuk penjara pasca putusan Mahkamah Agung pada 2015, dia kembali mengambil kendali partai dan memimpin gerakan oposisi terhadap pemerintah. Keputusan berat dibuatnya pada 2016 ketika harus berkompromi dengan diri dan keluarganya demi kepentingan yang lebih besar.

Ya, Wan Azizah akhirnya menerima permintaan Mahathir yang baru keluar dari Barisan Nasional (UMNO) untuk berkoalisi dengan Partai Keadilan Rakyat. Kedua pihak yang selama 18 tahun berbeda haluan itu kembali dipersatukan oleh kepentingan lebih besar: menumbangkan rezim Najib Razak yang mereka nilai korup.

Tak cuma Wan Azizah seorang yang membela dan memperjuangkan nasib dan kehormatan Anwar Ibrahim. Putri sulungnya, Nurul Izzah pun ikut bahu membahu bersama sang ibu. Semua itu bermula ketika pada 2 September 1998, dia yang tengah belajar untuk ujian matematika di kampusnya, Universiti Tenaga Nasional, menerima telepon dari seorang temannya. "Aku ikut prihatin," kata sang teman. Nurul Izzah kebingungan. Ada apa? "Apakah kamu belum dengar? Perdana Menteri telah memecat ayahmu," temannya mengabarkan.

Kontan Nurul Izzah berurai air mata. Menjelang tengah malam, Nurul baru bisa tersambung lewat telepon dengan ayahnya. "Izzah, kamu harus berani. Ayah akan melawan. Selesaikan ujianmu dan tak usah mengkhawatirkan ayahmu," Anwar Ibrahim menenangkan Nurul Izzah.

Dari seorang anak sekolah yang hanya tahu mengurus kuliah, Nurul Izzah menjadi aktivis, menjadi orator, berjuang membela ayahnya. "Aku harus membersihkan nama ayahku dan mengembalikan kehormatan keluarga. Bagaimana mungkin aku hanya duduk berpangku tangan?" kata Nurul Izzah, kini Wakil Presiden Partai Keadilan Rakyat, mendampingi ibunya. Ibu dua anak itu, kini tercatat untuk ketiga kalinya menjadi anggota parlemen, sejak 2008.

Seperti sang ayah, Nurul Izah pun pernah meringkuk di dalam sel, meski cuma semalam pada 16 Maret 2015. Polisi menangkap dan menahannya terkait orasi Nurul yang mengecam putusan pengadilan yang menjebloskan kembali ayahnya ke penjara.

Pada 16 Mei 2018, bola mata kedua perempuan hebat itu: Wan Azizah Wan Ismail dan Nurul Izzah, tampak berurai air mata. Tapi air mata kali ini adalah ekspresi suka cita. Suami dan ayah mereka keluar dari penjara. Bila semua berjalan baik sesuai kehendak Tuhan, dalam tempo 1-2 tahun ke depan, Anwar Ibrahim akan memimpin pemerintahan Malaysia. Amien...

Sumber: TheStar | Malaysia Insider | Malaysiakini | Reuters


(jat/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed