ADVERTISEMENT

Barisan Nasional Kalah Usai 60 Tahun Berkuasa, Apa Penyebabnya?

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 10 Mei 2018 16:52 WIB
Spanduk Barisan Nasional di Kuala Lumpur (REUTERS/Athit Perawongmetha)
Kuala Lumpur - Kemenangan koalisi pimpinan Mahathir Mohamad dalam pemilu Malaysia dinilai mengejutkan karena sempat dianggap tidak mungkin terjadi. Lawannya merupakan koalisi politik yang telah berkuasa selama 60 tahun sejak Malaysia merdeka.

Seperti dilansir CNN, Kamis (10/5/2018), pakar politik Malaysia dari John Cabot University di Italia, Bridget Welsh, menilai koalisi Barisan Nasional (BN) yang berkuasa sejak Malaysia merdeka tahun 1957, bisa menang jika tidak ada Najib Razak di dalamnya. Najib merupakan pemimpin koalisi BN yang terdiri atas 13 partai politik.

"Najib adalah penghambat. Narsisme-nya membuat mereka (BN) kalah pemilu," sebut Welsh, merujuk pada kampanye BN dan janji-janji kampanye yang berpusat di Najib.


Menurut Welsh, taktik kampanye Najib tidak mempan untuk rakyat Malaysia. "Dia menggunakan politik ras dan uang, seperti yang dia lakukan saat (pemilu) tahun 2013, tapi tidak memiliki daya tarik yang sama," sebutnya.

"Ini adalah tsunami Malaysia di seluruh ras, generasi dan latar belakang," imbuh Welsh, merujuk pada besarnya dukungan rakyat Malaysia terhadap koalisi oposisi Pakatan Harapan (PH) yang dipimpin Mahathir Mohamad, eks PM Malaysia yang juga mantan mentor Najib.

Hasil akhir resmi dari Komisi Pemilihan Umum Malaysia atau EC menunjukkan koalisi oposisi PH meraih 113 kursi dari total 222 kursi Dewan Rakyat atau parlemen federal yang diperebutkan. Sedangkan koalisi Barisan Nasional (BN) yang dipimpin Najib hanya meraih 79 kursi.


Analisis lain disampaikan Direktur Institut Asia pada University of Tasmania di Australia, James Chin, yang menyebut Najib 'akhirnya kehabisan trik'. Chin juga menyebut Mahathir melakukan taktik cerdas dalam mencuri suara di wilayah pinggiran Malaysia, yang sebelumnya mendukung Najib.

Dalam analisisnya, Chin membandingkan pidato kampanye Mahathir dan Najib pada Selasa (8/5) malam, sebelum pemungutan suara digelar. "Najib masih memainkan permainan suap -- Anda beri saya suara Anda, saya beri Anda ini atau itu. Mahathir, sebaliknya, tampil sebagai negarawan dan menunjukkan martabat Melayu," sebutnya.

Menurut Chin, ada dua hal yang membantu Mahathir menang melawan Najib, yakni jumlah pemilih yang tinggi dan bergesernya suara warga di pinggiran Malaysia. "Bahkan meskipun warga pinggiran tidak memahami 1MDB, mereka paham ada hal terselubung yang terjadi. Dan citra Najib memburuk," cetusnya merujuk pada skandal korupsi yang menyelimuti Najib.


Analisis senada disampaikan Rashaad Ali dari S Rajaratnam School of International Studies di Singapura. Ali menyebut koalisi oposisi PH mengharapkan Mahathir yang merupakan tokoh senior di kelompok Melayu di Malaysia bisa merebut suara para loyalis Najib. Oposisi juga menggantungkan dukungan dari wilayah perkotaan dan dukungan dari etnis minoritas China dan India di Malaysia.

Ali menyebut strategi oposisi itu berhasil. "Terjadi pergeseran signifikan dalam suara kelompok Melayu," sebut Ali.

Oposisi pimpinan Mahathir berhasil meraup dominasi di wilayah kunci seperti Johor dan Kedah, serta mengurangi dominasi Najib di kantong suaranya seperti di Sarawak.

(nvc/imk)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT