DetikNews
Senin 07 Mei 2018, 14:09 WIB

Sindir Aturan Senjata Api, Trump Bikin Marah Prancis dan Inggris

Novi Christiastuti - detikNews
Sindir Aturan Senjata Api, Trump Bikin Marah Prancis dan Inggris Donald Trump (REUTERS/Leah Millis)
Washington DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memicu kemarahan di Prancis dan Inggris. Trump menyebut aturan senjata api yang tidak terlalu ketat bisa membantu mencegah serangan mematikan di Paris, Prancis tahun 2015. Trump juga mengaitkan serangan pisau di London dengan larangan senjata api di Inggris.

Seperti dilansir Reuters, Senin (7/5/2018), hal itu disampaikan Trump dalam pidatonya saat menghadiri konvensi Asosiasi Senapan Nasional (NRA) pada Jumat (4/5) lalu. Dalam pidatonya, Trump menirukan adegan serangan teror di Paris dan menyatakan jika saat itu warga sipil Prancis dipersenjatai, tentu 'akan menjadi kisah yang sangat berbeda'.

Pemerintah Prancis memberikan kritikan tajam untuk Trump terkait pernyataannya itu. Seorang menteri Prancis bahkan mendesak Trump untuk meminta maaf. Pernyataan Trump ini disampaikan setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron berkunjung ke AS, dalam rangka memperkuat hubungan bilateral dengan AS.

"Prancis menyatakan penolakan tegas terhadap komentar Presiden Trump soal serangan Paris pada 13 November 2015 dan meminta agar kenangan para korban dihormati," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Prancis.


"Setiap negara secara bebas memutuskan aturan hukum masing-masing soal senjata api, sama seperti di wilayah lain. Prancis bangga menjadi negara di mana mendapatkan dan menenteng senjata api diatur secara ketat," imbuh pernyataan itu.

Menteri Keuangan Prancis, Bruno Le Maire, mengharapkan Trump 'menarik ucapannya dan menyatakan penyesalan'. Sejumlah politikus Prancis, termasuk Wali Kota Paris, mengecam komentar dan sikap Trump yang seolah menirukan adegan serangan teror di gedung konser Bataclan di Paris tahun 2015 lalu. Sedikitnya 90 orang dari 130 korban jiwa, tewas di Bataclan.

"Tidak ada yang punya senjata api di Paris," ujar Trump, sembari menyebut para korban teror Paris dibunuh oleh 'sekelompok kecil teroris'. "Jika satu pegawai, atau satu orang saja punya senjata api, atau satu orang di ruangan ini ada di sana dengan senjata, ditodongkan ke arah berlawanan, teroris akan kabur atau tertembak," imbuhnya.

"Mereka memanfaatkan waktu dan menembak pelaku satu per satu. Boom! Ke sini. Boom! Ke sini. Boom!" ucap Trump sembari menggerakkan tangannya seperti sedang memegang pistol. Mantan Presiden Prancis, Francois Hollande, yang menjabat saat teror Paris terjadi, menyebut pernyataan Trump itu 'memalukan' dan 'tidak pantas'.


Sedangkan untuk komentar terkait serangan pisau di London, Trump dianggap gagal paham. Di hadapan anggota NRA, Trump menyebut sebuah rumah sakit yang terkenal di London, yang tidak disebut namanya, telah dipenuhi korban serangan pisau sehigga mirip rumah sakit era perang.

"Mereka tidak punya pistol. Mereka punya pisau dan ada darah di seluruh lantai rumah sakit ini. Mereka menyebutnya sama buruk seperti sebuah rumah sakit di zona perang. Pisau, pisau, pisau, pisau," ujar Trump sambil melakukan gerakan menikam.

Sejumlah dokter bedah trauma di Inggris mengecam komentar Trump. "Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memerangi kekerasan, tapi menyarankan senjata api sebagai bagian dari solusi adalah konyol. Luka tembak setidaknya dua kali lipat lebih mematikan dari luka tusukan dan lebih sulit disembuhkan," kata dokter bedah trauma Inggris, Karim Brohi.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed