DetikNews
Rabu 25 April 2018, 12:44 WIB

Profesor Palestina Dibunuh di Malaysia, Istrinya Pulang ke Gaza

Novi Christiastuti - detikNews
Profesor Palestina Dibunuh di Malaysia, Istrinya Pulang ke Gaza Enas Al Batsh, istri profesor Palestina yang tewas di Malaysia (AFP/MOHD RASFAN)
Kuala Lumpur - Istri profesor Palestina yang tewas ditembak di jalanan Kuala Lumpur, Malaysia menyatakan akan meninggalkan negeri Jiran itu dan pulang ke Gaza untuk tinggal di sana selamanya. Dia akan mengajak serta ketiga anaknya.

Fadi Mohammad al-Batsh (35) tewas ditembak saat keluar rumah untuk salat Subuh pada Sabtu (21/4) lalu. Pelakunya ada dua orang, dengan salah satu di antaranya melepas 14 tembakan ke arah Batsh. Beberapa tembakan mengenai kepala dan tubuh Batsh hingga langsung menewaskannya.

Seperti dilansir kantor berita Bernama, Rabu (25/4/2018), istri Batsh, Enas (31), untuk pertama kalinya bersedia diwawancara setelah suaminya tewas. Enas masih sangat sedih atas kepergian suaminya, namun dia meladeni pertanyaan wartawan lokal pada Selasa (24/4) waktu setempat.


Kepada wartawan, Enas menyatakan akan mewujudkan keinginan suaminya agar dia menyelesaikan pendidikan doktor atau PhD sebagai bentuk penghormatan terakhir. Enas menyebut suaminya sebagai sosok pria yang sangat bersemangat soal pendidikan.

"Saya ingat suami saya berkata, kamu sudah sabar menunggu saya menyelesaikan PhD saya dan saya akan menunggumu menyelesaikan PhD-mu," ucap Enas kepada wartawan. "Dia bersikeras untuk hal itu, agar saya menyelesaikan studi saya," imbuhnya.

Berbicara melalui penerjemah, Enas mengakui dirinya telah mendaftar program PhD pada Fakultas Pendidikan di Universiti Malaya dan akan melanjutkan kuliahnya secara online.

Diungkapkan Enas bahwa keluarganya berencana berlibur di Malaysia sebelum Batsh dibunuh. Enas mengenang almarhum suaminya sebagai sosok yang baik hati dan perhatian, yang selalu hidup dengan perilaku positif. "Dia sosok yang optimis yang memberi pengaruh positif bagi orang-orang di sekitarnya," sebutnya.


Jenazah Batsh akan diterbangkan ke Mesir dari Bandara Internasional Kuala Lumpur pada Rabu (25/4) malam, sekitar pukul 19.00 waktu setempat. Dari Mesir, jenazah profesor yang mengajar ilmu teknik itu akan dibawa ke Gaza, kampung halamannya, via jalur darat.

Saat diwawancarai media, Enas ditemani oleh putranya yang berusia 1 tahun, Mohammed, dan saudara iparnya, Ramy Al Batsh (28), yang secara khusus terbang ke Malaysia dari Jerman. Ramy menyebut mendiang kakaknya sebagai sosok luar biasa dan menjadi guru bagi orang-orang sekitarnya. Ditambahkan Ramy bahwa Batsh merupakan pria biasa yang dikagumi banyak orang, termasuk mereka yang non-muslim.

"Pelakunya harus dibawa ke pengadilan dan menghadapi hukuman terburuk," ucapnya. "Sungguh tidak bisa dibayangkan bahwa dia (Batsh) mampu melukai orang lain hingga memicu pembunuhannya," ujarnya.


Lebih lanjut, Ramy menyebut komentar yang menyebut kakaknya ahli pembuat roket sebagai omong kosong. Diketahui bahwa Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid Hamid sebelumnya menyebut Batsh sebagai 'insinyur kelistrikan dan pakar pembuat roket'.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed