DetikNews
Selasa 24 April 2018, 18:50 WIB

Dituduh Bunuh Dukun di Peru, Pria Kanada Tewas Dihakimi Massa

Novi Christiastuti - detikNews
Dituduh Bunuh Dukun di Peru, Pria Kanada Tewas Dihakimi Massa Polisi Peru mengevakuasi jenazah pria Kanada yang dibakar (REUTERS/ Hugo Enrique Alejos)
Lima - Seorang pria asal Kanada tewas dihakimi massa di sebuah desa Amazon terpencil di Peru, usai dituduh membunuh dukun wanita setempat. Hakim Peru telah mengeluarkan perintah penangkapan dua pria yang diduga terlibat aksi main hakim sendiri yang keji itu.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (24/4/2019), pria Kanada bernama Sebastian Woodroffe (41) ini dituduh warga desa setempat telah membunuh seorang wanita ahli pengobatan tradisional di wilayah terpencil Ucayali, Peru. Wanita itu bernama Olivia Arevalo (81). Kementerian Dalam Negeri Peru menyebut Woodroffe tewas usai diserang 'segerombolan orang', sebagai balasan atas kematian Arevalo.

Video berdurasi 1,5 menit yang diunggah ke Facebook menunjukkan dua pria menyeret Woodroffe, yang di lehernya terpasang tali, saat kerumunan orang lainnya menontonnya. Jenazah Woodroffe ditemukan terkubur di lokasi dekat video itu direkam. Hasil autopsi terhadap jenazah Woodroffe, seperti dilansir BBC, menunjukkan dia tewas karena tercekik. Terdapat juga sejumlah luka memar bekas pukulan di tubuhnya.


Jaksa Peru telah berhasil mengidentifikasi dua pria yang terekam dalam video itu. Jaksa juga masih menyelidiki sejumlah orang lainnya yang terlibat aksi pembunuhan keji itu. Hakim Peru telah merilis perintah penangkapan untuk dua pria yang identitasnya tidak diungkapkan ke publik itu.

Terlepas dari aksi main hakim sendiri terhadap Woofroffe ini, fakta-fakta di balik kematian Arevalo belum banyak terungkap. Hanya disebutkan bahwa Arevalo ditembak mati di dekat rumahnya pada Kamis (19/4) lalu. Arevalo dikenal sebagai dukun yang sangat dipuja di kalangan suku Shipibo-Conibo di Ucayali.

Ricardo Jimenez selaku ketua jaksa di Ucayali menyatakan tidak ada saksi mata yang melihat langsung penembakan terhadap Arevalo. Senjata pembunuh juga belum ditemukan. Hasil pemeriksaan residu tembakan senjata api di jenazah Woodroffe membutuhkan waktu 15-20 hari.

Semasa hidup, Woodroffe diketahui merupakan salah satu pasien Arevalo. Jimenez menyebut, keluarga Arevalo meyakini Woodroffe membunuh nenek berusia 81 tahun itu setelah dia menolak melakukan ritual dengan 'ayahuasca', tanaman Amazon yang bisa memicu halusinasi. Diyakini bahwa tanaman 'ayahuasca' jika direbus bisa digunakan untuk pemulihan dan pertumbuhan spiritual.


Namun otoritas Peru juga menjajaki sejumlah dugaan lain terkait kematian Arevalo. Salah satunya bahwa ada warga asing lain yang membunuhnya terkait utang yang belum dibayar.

Woodroffe sendiri diketahui pindah ke Ucayali untuk meneliti lebih dalam soal tanaman-tanaman obat di Peru. Menurut situs penggalangan dana secara online, Indiegogo.com, Woodroffe menggalang dana untuk misi dirinya ke Peru dan menyatakan ingin menjadi konselor khusus para pecandu. Dia juga menyebut rencananya menghabiskan 6.800 dolar Kanada di pusat penyembuhan Shipibo.

Tanaman 'ayahuasca' diketahui sejak lama digunakan banyak suku lokal di Peru dalam ritual spiritual. Tanaman ini banyak dikenal karena diyakini membantu mengatasi kecanduan dan trauma.

Terhadap kasus ini, Departemen Luar Negeri Kanada menyatakan terus berkomunikasi dengan otoritas Peru. "Kami mengetahui kasus ini dan secara aktif meminta informasi lebih lanjut," demikian pernyataan Departemen Luar Negeri Kanada.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed