DetikNews
Selasa 17 April 2018, 13:16 WIB

Dubes AS: Suriah Punya Sejarah Panjang Gunakan Senjata Kimia

Erwin Dariyanto - detikNews
Dubes AS: Suriah Punya Sejarah Panjang Gunakan Senjata Kimia anak-anak Suriah yang menjadi korban dugaan serangan kimia di Douma (Foto: REUTERS)
Jakarta - Pemerintah Suriah dan sekutunya, Rusia bersikeras membantah adanya serangan kimia di Douma, Suriah pada Sabtu (7/4) lalu. Namun Duta Besar (Dubes) Amerika Serikat untuk Indonesia, Joseph R Donovan Jr menegaskan bahwa rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad telah memiliki sejarah panjang menggunakan senjata kimia untuk membunuh rakyatnya sendiri.

"Dunia telah menyaksikan penderitaan melalui foto-foto yang mengerikan, yang keluar dari Suriah sejak minggu kemarin. Foto-foto dari anak-anak yang terbunuh ini bukan berita palsu atau fake news," cetus Donovan saat ramah-tamah dengan wartawan di kediaman dinas Dubes AS di Taman Suropati Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (17/4/2018).


Dikatakan Dubes AS tersebut, rezim Suriah telah beberapa kali menggunakan senjata kimia untuk memaksimalkan penderitaan warga sipil. "Jadi sudah ada laporan sebanyak 30 insiden terpisah sejak April 2017, ketika Suriah menggunakan gas sarin untuk membunuh rakyatnya sendiri," tutur Donovan.

Donovan mengatakan, Organisasi Pelarangan Senjata Kimia atau Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW) telah memutuskan bahwa rezim Suriah bertanggung jawab atas serangan gas sarin di Khan Sheikhoun pada April 2017 lalu. Bahkan pada musim gugur 2016, OPCW juga melaporkan bahwa rezim Assad bertanggung jawab atas serangan klorin yang dilakukan pada 2014-2015.


Menurut diplomat Amerika tersebut, laporan OPCW tersebut menunjukkan tidak hanya adanya pola agresi terhadap rakyat Suriah yang menggunakan senjata kimia, namun juga membuktikan bahwa klaim Rusia yang menyebut Assad telah menyingkirkan senjata kimianya, adalah tidak benar.

Pekan lalu, sejumlah organisasi kemanusiaan seperti organisasi White Helmets dan Syrian American Medical Society melaporkan serangan gas kimia beracun telah terjadi di Douma, Suriah, pada 7 April lalu. Dilaporkan dua organisasi itu bahwa lebih dari 500 orang dibawa ke pusat-pusat medis 'dengan gejala-gejala yang mengindikasikan paparan ke zat kimia'. Puluhan orang termasuk anak-anak dilaporkan tewas akibat serangan kima itu.

Negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat (AS), menyatakan telah memiliki bukti bahwa serangan kimia itu didalangi rezim Suriah. Pada Sabtu (14/4) dini hari waktu setempat, AS bersama Inggris dan Prancis melancarkan serangan rudal ke sejumlah fasilitas senjata kimia Suriah.
(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed