DetikNews
Minggu 15 April 2018, 19:32 WIB

Konflik Amerika vs Rusia: Dari Inggris Pindah ke Suriah

Dhani Irawan - detikNews
Konflik Amerika vs Rusia: Dari Inggris Pindah ke Suriah Pusat penelitian Suriah luluh lantas setelah dirudal Amerika Serikat Cs (Foto: LOUAI BESHARA/AFP)
Damaskus - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dengan Rusia semakin memanas. Teranyar yaitu serangan AS dan sekutunya yang ditargetkan ke Suriah.

Namun, Rusia--yang merupakan sekutu Suriah--mengklaim kebanyakan rudal yang ditembakkan militer AS bersama Inggris dan Prancis berhasil ditembak jatuh. Konflik antara AS dan sekutunya dengan Rusia dan sekutunya itu bisa ditarik benang merahnya dengan peristiwa serangan gas saraf yang menimpa Sergei Skripal (66) pada Minggu, 4 Maret lalu.


Sergei bersama putrinya, Yulia (33), ditemukan tidak sadarkan diri di Salisbury, Inggris, karena diduga terpapar gas saraf--yang belakangan diketahui merupakan gas saraf level militer yang dikembangkan oleh Rusia yang disebut Novichok. Sergei pernah menjadi kolonel dalam Dinas Intelijen Militer Rusia, GRU, dan pernah menjadi agen ganda untuk Rusia juga Inggris.

Buntutnya, hubungan antara Inggris dan Rusia memanas. Saat itu, Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson, memperingatkan Rusia bahwa respons tegas akan diberikan jika terbukti negara itu mendalangi insiden ini.

AS yang merupakan sekutu Inggris bersama sekutu-sekutu Eropa-nya mengumumkan pengusiran diplomat Rusia pada Senin, 26 Maret 2018. Saat itu, Pemerintah AS mengusir 60 diplomat Rusia dan memberi mereka waktu sepekan untuk angkat kaki dari AS. Konsulat Rusia di Seattle juga diperintahkan ditutup.


Tak tinggal diam, Pemerintahan Rusia mengumumkan aksi balasan dengan mengusir sedikitnya 59 diplomat dari 23 negara, yang terlebih dulu mengusir diplomat mereka. Pengumuman ini disampaikan usai Rusia menyatakan akan balas mengusir 60 diplomat AS dari wilayahnya.

Setelah drama gas saraf berujung pengusiran diplomat tersebut, AS dan sekutu kembali bersitegang dengan Rusia dan sekutu. Ketegangan itu berawal dari serangan militer AS yang disebut mengerahkan kapal perang dan pesawat pengebom.

Serangan itu diklaim AS sebagai balasan dari serangan kimia beracun oleh rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad ke wilayah Ghouta, daerah yang merupakan benteng terbesar pemberontak melawan Assad. Dipercayai, rezim Assad yang didukung oleh Rusia melepas senjata kimia sehingga membuat sejumlah nyawa warga Ghouta melayang beberapa waktu lalu.


Target serangan itu disebut AS sebagai fasilitas penelitian yang merupakan program rahasia senjata kimia pemerintah Suriah. Namun, Kepala Departemen Polimer Pusat Suriah, Saeid Saeid, mengatakan gedung-gedung itu sebelumnya digunakan untuk meneliti dan membuat komponen obat yang tidak dapat diimpor. Dia mengklaim salah satu yang tengah diteliti dalam program rahasia Rusia itu adalah obat untuk kanker dan anti-racun.

Sedangkan, militer Rusia menyebut 71 dari 103 rudal, termasuk rudal Tomahawk milik AS, berhasil dihalau. Pejabat senior militer Rusia, Sergei Rudskoi, dalam konferensi pers di Moskow, mengatakan sistem pertahanan udara Suriah juga menggunakan perangkat buatan Uni Soviet, termasuk sistem rudal Buk dan sistem S-200, dalam menghalau rudal-rudal AS, Inggris dan Prancis.


Presiden AS Donald Trump menyebut hubungan AS dengan Rusia kini lebih buruk daripada saat terjadi Perang Dingin. Trump menyalahkan penyelidik khusus Robert Mueller karena memicu ketegangan dengan pemerintah Moskow. Mueller tengah memimpin penyelidikan atas dugaan campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden AS.

"Hubungan kita dengan Rusia kini lebih buruk dari sebelumnya, dan itu termasuk Perang Dingin. Tak ada alasan untuk ini," kata Trump seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (12/4/2018).

Trump pun mengejek ancaman Rusia untuk menembak jatuh rudal-rudal AS yang menargetkan Suriah. Trump mengecam hubungan Moskow dengan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad.

"Rusia bertekad untuk menembak jatuh semua rudal yang ditembakkan ke Suriah," tutur Trump.

"Bersiaplah Rusia, karena rudal-rudal itu akan datang, bagus dan baru dan 'cerdas!' Anda tak seharusnya bermitra dengan 'binatang gas pembunuh' yang membunuh rakyatnya dan menikmati itu!" sambung Trump yang berujung pada serangan AS ke Suriah.

Tak hanya AS, sekutunya yaitu Inggris dan Prancis turut serta melakukan serangan. Militer Inggris mengerahkan 4 jet tempur Tornado yang menembakkan sejumlah rudal Storm Shadow ke target-target di Suriah, sedangkan militer Prancis mengerahkan kapal perang jenis frigate dan jet tempur Rafale yang mampu menembakkan rudal jelajah ke target, tanpa memasuki wilayah Suriah. Total ada 115 rudal dan misal yang digunakan dalam serangan itu.
(dhn/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed