DetikNews
Sabtu 14 April 2018, 21:49 WIB

Bombardir AS dan Sekutu yang Diklaim Balasan Kejahatan Suriah

Jabbar Ramdhani - detikNews
Bombardir AS dan Sekutu yang Diklaim Balasan Kejahatan Suriah Pertahanan udara Suriah menangkal serangan rudal AS dan sekutunya (Foto: BBC World)
Jakarta - Militer Amerika Serikat (AS) bersama sekutunya yakni Inggris dan Prancis melakukan serangan udara ke Suriah. Serangan AS dilakukan dengan menggunakan rudal jelajah Tomahawk.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan aksi militer AS dalam pidatonya di Gedung Putih, Jumat (13/4) waktu setempat. Dia mengatakan serangan itu ditujukan ke senjata kimia yang diduga dimiliki rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Trump pun melontarkan pujian untuk serangan udara yang menargetkan fasilitas senjata kimia Suriah. Trump menilai serangan udara dilancarkan dengan sempurna.


"Sebuah serangan yang dilakukan secara sempurna semalam. Terima kasih kepada Prancis dan Inggris atas kebijaksanaan mereka dan kekuatan militer mereka yang baik. Hasilnya tidak bisa lebih baik lagi. Mission Accomplished!" ucap Trump dalam kicauan Twitter terbarunya, seperti dilansir AFP, Sabtu (14/4/2018).

Serangan udara ini disebut sebagai tanggapan atas serangan gas kimia beracun yang menewaskan puluhan orang di Douma, Suriah, pada Sabtu (7/4) pekan lalu.

Trump menyatakan dirinya memberikan respons semacam ini hingga Presiden Assad berhenti memakai senjata kimia dalam gempurannya terhadap pemberontak Suriah, yang juga berdampak ke warga sipil. Alasan serupa juga diutarakan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Theresa May.


"Tujuan dari aksi kita malam ini adalah untuk membangun pencegahan yang kuat dalam melawan produksi, penyebaran dan penggunaan senjata kimia," tegas Trump.

Secara terpisah, seperti dilansir CNN, Kepala Staf Gabungan Jenderal Joseph Dunford dalam keterangan pers di Pentagon atau Departemen Pertahanan AS menyatakan ada tiga target serangan udara AS dan sekutunya ini. Tiga lokasi itu yakni sebuah pusat penelitian ilmiah di Damaskus, sebuah fasilitas penyimpanan senjata kimia di sebelah barat Homs, dan sebuah fasilitas penyimpanan perlengkapan senjata kimia serta sebuah pos komando penting yang letaknya tak jauh dari target kedua.

Dalam serangan ini, militer AS disebut mengerahkan kapal perang dan pesawat pengebom. Sedangkan Inggris mengerahkan empat jet tempur Tornado yang menembakkan sejumlah rudal Storm Shadow ke target-target di Suriah. Militer Prancis mengerahkan kapal perang jenis frigate dan jet tempur Rafale yang mampu menembakkan rudal jelajah ke target tanpa memasuki wilayah Suriah.


Atas serangan yang terjadi di wilayahnya ini, Presiden Assad mengatakan akan tetap berjuang menghancurkan terorisme di setiap sudut negaranya. Hal ini ditegaskan Assad dalam pernyataan yang dirilis kantor Kepresidenan Suriah yang disampaikan televisi nasional Suriah dan dilansir AFP.

Assad menyampaikan pernyataan itu kepada Presiden Iran Hassan Rouhani yang meneleponnya untuk menyatakan dukungan pada Suriah. Iran juga mengecam keras serangan tersebut dan memperingatkan AS dan sekutunya soal konsekuensi besar atas aksinya ini karena dianggap telah 'melanggar aturan dan hukum internasional'.

Kecaman juga disampaikan Presiden Rusia Vladimir Putin. Putin menyebut 'aksi agresi' tersebut hanya memperparah situasi kemanusiaan di Suriah. Dia menyerukan Dewan Keamanan (DK) PBB segera menggelar rapat darurat khusus membahas serangan itu.


Putin menyebut serangan tiga negara itu 'memiliki dampak menghancurkan bagi seluruh sistem hubungan internasional'.

Putin menegaskan serangan kimia di Douma yang jadi alasan AS dan sekutunya untuk menyerang Suriah adalah palsu. Lebih lanjut, Putin mengkritik keras AS dan sekutunya yang melancarkan serangan udara ke Suriah tanpa menunggu para pemeriksa dari Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) yang sedang berkunjung ke Douma untuk melakukan pemeriksaan langsung.


Sementara itu, dalam pernyataannya, Sekjen PBB, Antonio Guterres menyerukan agar semua pihak menahan diri untuk mencegah kondisi kemanusiaan di Suriah memburuk.

"Saya mendorong semua negara anggota untuk menahan diri dalam situasi berbahaya saat ini dan untuk menghindari setiap aksi yang bisa memperparah situasi dan memperburuk penderitaan rakyat Suriah," tegas Guterres dalam pernyataannya seperti dilansir AFP.
(jbr/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed