Reaksi Malala yang Dikritik Anti-Islam Saat Kembali ke Pakistan

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 31 Mar 2018 16:30 WIB
Malala Yousafzai saat kembali ke Pakistan (REUTERS/Saiyna Bashir)
Islamabad - Kembalinya Malala Yousafzai ke Pakistan setelah enam tahun juga disambut kritikan. Ada kelompok yang menyebutnya anti-Islam dan anti-Pakistan.

Seperti dilansir Reuters, Sabtu (31/3/2018), kritikan itu disampaikan sejumlah sekolah swasta di Pakistan pada Jumat (30/3) dengan menyatakan 'Hari Saya Bukan Malala'. Mereka menyebut pandangan Malala sebagai 'anti-Islam dan anti-Pakistan'.


Beberapa bahkan menyebut Malala membawa agenda Barat ke Pakistan. Kritikan itu membuat Malala bingung. Dia lantas menanggapinya secara langsung saat diwawancarai Reuters di hotel tempatnya menginap di Pakistan pada Jumat (30/3) waktu setempat.

"Saya tidak tahu jika apapun yang pernah saya katakan membuat saya anti-Pakistan atau anti-Islam," ucap Malala yang kini berusia 20 tahun ini.

"Islam mengajarkan saya soal pentingnya perdamaian. Islam telah mengajarkan saya soal pentingnya pendidikan. Kata pertama dari Islam, atau kata pertama dari Alquran, adalah 'Iqra' yang berarti 'baca'," imbuhnya.


Dalam wawancara yang sama, Malala mengaku sangat senang bisa kembali ke negara asalnya, Pakistan, setelah bertahun-tahun tinggal di Inggris. Dia mengaku merindukan banyak hal soal Pakistan.

"Saya merindukan semuanya soal Pakistan ... mulai dari sungai-sungainya, pegunungannya, bahkan hingga jalanannya yang kotor dan sampah di sekitar rumah kami, dan teman-teman saya dan bagaimana dulu kami suka bergosip dan ngobrol soal kehidupan sekolah, hingga bagaimana kami suka bertengkar dengan tetangga kami," ucap Malala.

"Saya bangga pada agama saya, dan saya bangga pada negara saya," ujarnya. "Saya tidak pernah merasa begitu bersemangat untuk apapun. Saya tidak pernah merasa begitu bahagia sebelumnya," imbuhnya soal perasaannya bisa kembali ke negara asalnya, Pakistan.


Malala menyatakan dirinya sangat ingin pulang ke Pakistan sejak lama. Namun selain alasan keamanan, jadwal sekolah di Inggris lalu diterimanya dia di Oxford University, membuat Malala belum bisa kembali ke Pakistan.

Malala dan keluarganya tinggal di Inggris, sejak tahun 2012 saat dia ditembak Taliban. Seorang pria bersenjata dari Taliban nekat naik ke bus sekolah pada 9 Oktober 2012 dan bertanya 'Siapa Malala?' lalu menembaknya di kepala. Malala diterbangkan ke Inggris untuk menjalani perawatan medis secara intensif. Taliban menargetkan Malala karena posisinya yang menyerukan pendidikan untuk perempuan yang dianggap anti-Islam oleh Taliban.

Pekan ini, untuk pertama kalinya sejak 2012, Malala kembali menginjakkan kaki di Pakistan. Dalam pidato emosional usai mendarat di Pakistan pada Kamis (29/3) waktu setempat, Malala menangis sambil menyebut bahwa kembali ke Pakistan terasa bagaikan 'mimpi' baginya.

(nvc/rna)