DetikNews
Jumat 23 Maret 2018, 16:20 WIB

Mahathir Mohamad Ungkit Teori Konspirasi Hilangnya MH370

Novi Christiastuti - detikNews
Mahathir Mohamad Ungkit Teori Konspirasi Hilangnya MH370 Mahathir Mohamad (REUTERS)
Kuala Lumpur - Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, mengomentari tragedi hilangnya pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH370 sejak empat tahun lalu. Dia kembali mengungkit salah satu teori konspirasi soal hilangnya pesawat yang membawa 239 orang itu.

Diketahui bahwa keberadaan MH370 masih misterius usai hilang empat tahun lalu. Pesawat itu menghilang saat terbang dari Kuala Lumpur menuju Beijing, China. Upaya pencarian yang dipimpin Australia difokuskan di wilayah selatan Samudra Hindia, namun tak membuahkan hasil.

Hanya tiga pecahan puing yang dipastikan berasal dari MH370 yang telah ditemukan. Pencarian yang sempat dihentikan, kembali dimulai pada Januari ini. Fokus pencarian bergeser ke utara dari zona pencarian sebelumnya.


Dalam wawancara dengan surat kabar Australia, The Australian, seperti dilansir AFP, Jumat (23/3/2018), Mahathir (92) mengaku tidak percaya jika otoritas Malaysia terlibat dalam upaya menutup-nutupi hilangnya MH370. Namun Mahathir menduga ada kemungkinan pesawat jenis Boeing 777 itu diambil alih kendalinya dari jarak jauh.

"Pernah dilaporkan pada 2006 bahwa Boeing mendapat lisensi untuk mengoperasikan pengambilalihan sebuah pesawat yang dibajak saat pesawat itu terbang, jadi saya bertanya-tanya apakah itu yang terjadi atau tidak," ucap Mahathir.

"Sungguh aneh bahwa sebuah pesawat tidak meninggalkan jejak sama sekali," imbuhnya. "Kapasitas untuk melakukan itu (pengambilalihan kendali pesawat) ada. Teknologinya ada," ujar Mahathir menambahkan teori konspirasi ini.


"Anda tahu bagaimana ahlinya orang-orang sekarang dalam mengoperasikan pesawat tanpa pilot. Bahkan pesawat tempur juga akan terbang tanpa pilot. Sejumlah teknologinya bisa kita baca di media tapi banyak hal-hal signifikan secara militer yang tidak dipublikasikan," tambahnya.

Menurut berbagai laporan, Boeing dianugerahi hak paten dari AS pada tahun 2006 untuk sistemnya yang jika diaktifkan, akan bisa mengambil alih kendali sebuah pesawat komersial dari jarak jauh. Sistem diperkirakan untuk digunakan dalam situasi pembajakan pesawat.

Namun tidak pernah ada bukti nyata bahwa sistem itu pernah digunakan pada pesawat komersial, diduga karena kekhawatiran keselamatan.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed