Eks Presiden Prancis Didakwa Terima Dana Kampanye dari Khadafi

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 22 Mar 2018 13:33 WIB
Nicolas Sarkozy (Matthias Hangst/Getty Images)
Paris - Mantan Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy, dilepaskan dari tahanan usai dua hari diinterogasi terkait skandal dana kampanye. Namun dia dijerat dakwaan menerima dana kampanye dari mendiang diktator Libya, Muammar Khadafi dalam pemilu tahun 2007 lalu.

Seperti dilansir AFP dan Reuters, Kamis (22/3/2018), Sarkozy (63) ditahan sejak Selasa (20/3) pagi waktu setempat dan langsung diinterogasi selama 15 jam. Pada Selasa (20/3) malam, dia diperbolehkan pulang sebelum interogasi dilanjutkan keesokan pagi, pada Rabu (21/3) waktu setempat.

Kemudian pada Rabu (21/3) malam, Sarkozy dilepaskan. "Nicolas Sarkozy tidak lagi berada dalam tahanan," ucap seorang sumber yang memahami kasus ini, kepada AFP. Pengacara Sarkozy menolak untuk berkomentar.

Secara resmi, Sarkozy didakwa atas pidana korupsi dan pendanaan kampanye secara ilegal oleh pengadilan Prancis. Dia menjabat Presiden Prancis selama satu periode, yakni pada tahun 2007-2012. Dituturkan seorang pejabat peradilan Prancis yang tidak bisa disebut namanya, bahwa yang menjadi fokus penyelidikan cukup beragam, mulai dari korupsi pasif, dana kampanye ilegal dan menutup-nutupi penyalahgunaan uang negara Libya.


Meski dilepaskan dari tahanan, Sarkozy berada di bawah pengawasan pengadilan, atau dalam istilah hukum Prancis adalah 'ditempatkan di bawah penyelidikan'. Status ini ditetapkan saat penyidik Prancis memiliki dasar dan bukti cukup untuk menjeratkan dakwaan pidana.

Sumber peradilan Prancis menyebut Sarkozy menyangkal dakwaan-dakwaan yang dijeratkan kepadanya. Dia memiliki waktu enam bulan untuk mengajukan banding atas dakwaan itu dan kemudian hakim akan memutuskan apakah kasus ini layak dilanjutkan ke persidangan.

Penyelidikan kasus ini dimulai sejak tahun 2013, setelah muncul klaim dari sejumlah tokoh rezim Khadafi, termasuk putra Khadafi, Seif al-Islam. Saat itu Seif menuturkan kepada Eurnonews bahwa 'Sarkozy harus terlebih dulu mengembalikan uang yang diambil dari Libya untuk mendanai kampanye pemilu'. Khadafi sendiri tewas usai lengser pada tahun 2011 akibat operasi pimpinan NATO yang dipimpin Prancis di bawah Sarkozy.

Sarkozy membantah tudingan itu dengan menyebutnya sebagai kemarahan loyalis Khadafi. Namun laporan media lokal menyebut dana dari Khadafi untuk Sarkozy diantarkan menggunakan koper. Seorang pengusaha keturunan Prancis-Lebanon telah mengaku dirinya mengantarkan tiga koper berisi uang tunai dari Khadafi untuk Sarkozy tahun 2006 dan 2007, menjelang pilpres Prancis.


Setiap koper disebut berisi uang sebesar 1,5 juta hingga 2 juta euro, dalam pecahan 200 dan 500 euro. Pengusaha bernama Ziad Takieddine itu mengklaim uang itu diberikan oleh Kepala Intelijen Militer Libya, Abdallah Senussi dan diantarkannya kepada mantan Menteri Dalam Negeri Prancis, Claude Gueant, yang menjabat pada era Sarkozy.

Dalam laporan tahun 2012, media lokal Mediapart merilis sebuah dokumen yang disebut ditandatangani bos intelijen Libya yang menunjukkan Khadafi sepakat mendanai kampanye Sarkozy sebesar 50 juta euro.

Kasus ini merupakan kasus besar kedua yang menjerat Sarkozy. Sebelumnya dia didakwa memalsukan laporan keuangan untuk menutupi dana kampanye berlebih yang dihabiskan selama kampanye pemilu 2012, saat dia kembali mencalonkan diri dan gagal.

[Gambas:Video 20detik]

(nvc/rna)