DetikNews
Selasa 20 Maret 2018, 19:41 WIB

Ahli Kimia Rusia Akui Ciptakan Racun yang Buat Eks Mata-mata Kritis

Novi Christiastuti - detikNews
Ahli Kimia Rusia Akui Ciptakan Racun yang Buat Eks Mata-mata Kritis Lokasi Skripal dan putrinya ditemukan tak sadarkan diri usai terpapar gas saraf (REUTERS/Peter Nicholls)
Moskow - Seorang ahli kimia Rusia mengakui dirinya mengembangkan gas saraf Novichok, jenis racun yang sama yang membuat eks mata-mata Sergei Skripal dan putrinya kritis hingga kini. Pengakuan ini bertentangan dengan klaim otoritas Rusia yang mengaku pernah mengembangkan Novichok.

Seperti dilansir AFP dan Reuters, Selasa (20/3/2018), ahli kimia bernama Leonid Rink menuturkan kepada RIA Novosti, dirinya pernah bekerja pada sebuah program yang didukung negara pada awal 1990-an. Program itu salah satunya bertujuan memproduksi gas saraf jenis Novichok.


Namun Rink menegaskan, serangan terhadap Skripal (66) dan putrinya, Yulia (33), tidak didalangi oleh Rusia karena keduanya masih hidup usai 3 minggu terpapar gas saraf Novichok di Salisbury, Inggris. Dengan kata lain, Rink menyebut kedua orang itu seharusnya sudah mati jika Rusia yang meracuni mereka.

"Mereka masih hidup. Itu berarti, apakah racun itu sama sekali bukan sistem Novichok, atau racun itu dibuat secara buruk, dimasukkan secara ceroboh," ucap Rink dalam wawancara dengan media Rusia, RIA Novosti. "Atau langsung setelah terpapar, Inggris menggunakan sebuah penawar racun, dalam kasus ini mereka harus benar-benar mengetahui racun apa itu sebenarnya," imbuhnya.


Dalam wawancara itu, Rink mengaku pernah bekerja di sebuah fasilitas senjata kimia pada era Uni Soviet. Fasilitas itu terletak di wilayah Shikhan, Saratov, yang kini menjadi wilayah Rusia. Rink bekerja di fasilitas itu selama 27 tahun hingga fasilitas itu ditutup pada awal 1990-an.

Saat ditanya apakah dirinya merupakan salah satu pencipta Novichok, Rink menjawab: "Iya. Itu menjadi dasar dari disertasi doktoral saya."

Rink menyebut Novichok bukanlah zat tunggal, melainkan sebuah sistem senjata kimia yang disebut 'Novichok-5' oleh Uni Soviet. "Sekelompok besar para ahli di Shikhan dan Moskow mengerjakan Novichok -- dengan teknologi, toksikologi dan biokimia. Pada akhirnya, kami mencapai hasil yang sangat baik," klaim Rink.


Lebih lanjut, Rink ikut melontarkan teori yang diramaikan oleh media-media nasional Rusia, yakni Inggris bisa saja berada di balik serangan terhadap Skripal dan putrinya. Rink juga menyebut teknologi pengembangan Novichok telah diketahui banyak negara, termasuk Inggris, Amerika Serikat (AS) dan China.

"Sulit dipercaya bahwa Rusia terlibat, mengingat orang-orang yang terkena insiden ini masih hidup. Aksi tidak kompeten yang menghina semacam ini oleh terduga mata-mata (Rusia) tentu akan ditertawakan dan tidak bisa diterima," tegasnya.

Pengakuan Rink ini bertentangan dengan penegasan otoritas Rusia yang sebelumnya menyatakan tidak pernah mengembangkan Novichok. "Saya ingin menyatakan dengan penuh kepastian bahwa Uni Soviet atau Rusia tidak memiliki program untuk mengembangkan agen racun bernama Novichok," ucap Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, pekan lalu.


(nvc/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed