Prihatin, Sekjen PBB: Penggunaan Gas Saraf Tak Bisa Diterima

Prihatin, Sekjen PBB: Penggunaan Gas Saraf Tak Bisa Diterima

Rita Uli Hutapea - detikNews
Kamis, 15 Mar 2018 12:25 WIB
Prihatin, Sekjen PBB: Penggunaan Gas Saraf Tak Bisa Diterima
Yulia Skripal, putri bekas mata-mata Rusia Sergei Skripal (Foto: Facebook/Yulia Skripal)
New York - Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres sangat prihatin akan serangan gas saraf yang menimpa bekas mata-mata Rusia di Inggris. Guterres menegaskan, penggunaan gas saraf adalah tak bisa diterima. Pemimpin badan dunia itu pun menyerukan adanya penyelidikan menyeluruh atas insiden tersebut.

"Penggunaan gas saraf sebagai senjata dalam kondisi apapun adalah tak bisa diterima dan penggunaannya oleh negara merupakan pelanggaran serius hukum internasional," kata juru bicara PBB Farhan Haq mengutip ucapan Guterres, seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (15/3/2018).

Dikatakannya, Guterres sangat prihatin akan serangan yang terjadi pada 4 Maret di kota Salisbury, Inggris.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Meski Sekjen tidak dalam posisi untuk menuntut tanggung jawab, dia mengecam keras penggunaan gas saraf ataupun senjata kimia dan berharap insiden ini akan diselidiki secara menyeluruh," imbuh Haq.

Eks mata-mata Rusia, Sergei Skripal (66) dan putrinya, Yulia (33), ditemukan tak sadarkan diri di bangku dekat pusat perbelanjaan di Salisbury pada 4 Maret lalu. Otoritas Inggris telah memastikan keduanya terpapar gas saraf. Skripal dan putrinya kini kritis di rumah sakit. Insiden ini diselidiki sebagai percobaan pembunuhan.


Seperti dilansir AFP, Selasa (13/3/2018), Perdana Menteri Inggris Theresa May menyebut gas saraf yang membuat Skripal dan putrinya tak sadarkan diri merupakan jenis gas saraf level militer yang dikembangkan oleh Rusia. Menurut PM May, Rusia sebelumnya pernah menggunakan jenis gas saraf yang disebut Novichok ini.

PM May mengusir 23 diplomat Rusia dan menghentikan kontak tingkat tinggi dengan Rusia setelah Moskow tidak merespons desakannya untuk memberikan penjelasan terkait insiden tersebut. Kepada parlemen Inggris, PM May mengatakan bahwa Rusia merupakan pelaku percobaan pembunuhan Skripal dan putrinya. Namun Moskow membantah keterlibatan dalam serangan menggunakan gas saraf Novichok tersebut. (ita/ita)


Berita Terkait