DetikNews
Selasa 13 Maret 2018, 09:22 WIB

Cerita Korban Selamat Pesawat Maskapai Bangladesh yang Jatuh di Nepal

Novi Christiastuti - detikNews
Cerita Korban Selamat Pesawat Maskapai Bangladesh yang Jatuh di Nepal Bangkai pesawat maskapai Bangladesh yang jatuh di Nepal (REUTERS/ Navesh Chitrakar)
Kathmandu - Sekitar 22 orang berhasil selamat dari kecelakaan pesawat maskapai Bangladesh yang jatuh di Nepal. Beberapa di antaranya menceritakan peristiwa mengerikan yang mereka alami. Seperti apa?

Salah satu korban selamat yang bernama Sanam Shakya menuturkan bagaimana dirinya tidak menyadari jika pesawat yang ditumpanginya bermasalah, hingga pesawat menghantam daratan. Shakya menyelamatkan diri dengan memanjat keluar jendela pesawat yang terbakar.

"Pesawat bergerak turun, ke kanan dan ke kiri, naik lalu turun... jadi saya pikir ini hanya masalah lalu lintas udara. Tapi saya baru menyadari pesawat mengalami masalah ketika pesawat mendarat secara paksa," tutur Shakya (33) dari ranjang rumah sakit, seperti dilansir AFP, Selasa (13/3/2018).


Seorang korban selamat lainnya, Basanta Bohara (27) yang masih bingung, mengaku tidak ingat bagaimana dirinya bisa selamat dari pesawat yang terbakar. "Saya ingat kecelakaannya. Tapi tidak hal lainnya. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa keluar," ucap Bohara dari ranjang rumah sakit.

Pesawat maskapai Bangladesh, US Bangla-Airlines, ini terjatuh saat hendak mendarat di Bandara Internasional Tribhuvan, Kathmandu pada Senin (12/3) waktu setempat. Pesawat jenis Bombardier Dash 8 400 turboprop yang berusia 17 tahun ini, menghantam bagian timur landasan dan tergelincir hingga masuk ke lapangan sepakbola dekat bandara. Usai menghantam daratan, pesawat ini terbakar hebat hingga hangus.


Petugas penyelamat terpaksa memotong beberapa bagian badan pesawat untuk mengevakuasi para penumpang. Beberapa korban ditemukan terkubur di bawah reruntuhan pesawat yang tersebar di lokasi jatuhnya pesawat. Sejauh ini, otoritas Nepal memastikan 49 orang tewas dan 22 orang lainnya luka-luka. Diketahui ada 71 orang, yang terdiri dari 67 penumpang dan empat awak di dalam pesawat nahas ini.

Sejumlah saksi mata menyebut pesawat itu menghantam daratan saat melakukan percobaan pendaratan kedua di Bandara Internasional Tribhuvan. Pesawat disebut bergetar hebat saat kehilangan ketinggian dan akhirnya menghantam daratan lalu terbakar.

"Pesawat seharusnya bergerak lurus tapi bergerak ke arah lainnya... kemudian pesawat jatuh ke arah lapangan," sebut petugas kebersihan bandara, Sushil Chaudhary, yang melihat langsung kecelakaan itu.


Penyebab jatuhnya pesawat ini belum diketahui pasti. Namun menurut pernyataan dari otoritas Bandara Internasional Tribhuvan, pesawat ini 'kehilangan kendali' saat akan mendarat. CEO US-Bangla Airlines, Imran Asif, menyalahkan operator menara lalu lintas udara (ATC) Kathmandu dengan menyebut mereka 'ceroboh' menangani pendaratan pesawat itu.

"Pilot kami merupakan instruktur pesawat Bombardier ini. Jam terbangnya di atas 5 ribu jam. Ada kecerobohan dari menara kendali," tuding Asif. Sumber bandara setempat yang enggan disebut namanya menyebut ada kebingungan antara ATC dan pilot pesawat soal ujung landasan bandara Kathmandu, yang disebut sebagai 'Runway 02' dan 'Runway 20'.

Kecelakaan pesawat ini tercatat sebagai yang paling mematikan sejak September 1992, ketika 167 orang tewas setelah pesawat maskapai Pakistan International Airlines jatuh saat akan mendarat di Bandara Kathmandu. Dua bulan sebelumnya, sebuah pesawat maskapai Thai Airways jatuh di dekat bandara yang sama dan menewaskan 113 orang.

[Gambas:Video 20detik]


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed