DetikNews
Kamis 08 Maret 2018, 11:08 WIB

Inggris: Eks Mata-mata Rusia dan Putrinya Diracun Gas Saraf

Novi Christiastuti - detikNews
Inggris: Eks Mata-mata Rusia dan Putrinya Diracun Gas Saraf Yulia dan ayahnya, Sergei Skripal, ditemukan tak sadarkan diri di bangku di luar pusat perbelanjaan Inggris (Facebook/Yulia Skripal)
London - Eks mata-mata Rusia dan putrinya yang ditemukan tak sadarkan diri diduga sengaja diracun dengan gas saraf. Kepolisian Inggris menyelidiki insiden ini sebagai percobaan pembunuhan dengan dua korban sebagai target terarah.

Sergei Skripal (66) yang pernah menjadi kolonel dalam Dinas Intelijen Militer Rusia, GRU dan pernah menjadi agen ganda untuk Rusia juga Inggris, ditemukan tak sadarkan diri bersama putrinya, Yulia (33), di Salisbury, Inggris pada Minggu (4/3) sore waktu setempat.

Hingga kini, ayah dan anak ini masih kritis di rumah sakit setempat. Seorang polisi yang pertama mendatangi lokasi kejadian di dekat pusat perbelanjaan setempat, juga jatuh sakit dan kini dalam kondisi serius di rumah sakit.


Dugaan sementara menyebut Skripal dan putrinya tak sadarkan diri usai terpapar gas saraf. Zat yang sama diduga membuat polisi setempat ikut sakit. Penyelidikan insiden ini telah diambil alih oleh Divisi Antiterorisme pada Kepolisian Metropolitan London.

"Ini ditangani sebagai insiden besar yang melibatkan percobaan pembunuhan melalui pemberian gas saraf," sebut pejabat top kepolisian untuk antiterorisme, Asisten Komisioner Mark Rowley, kepada wartawan seperti dilansir Reuters, Kamis (8/3/2018).

"Saya juga bisa mengonfirmasi bahwa kami meyakini dua orang ini, yang tiba-tiba sakit, sejak awal menjadi target spesifik," imbuh Rowley.


Dituturkan Rowley bahwa para ilmuwan pemerintah Inggris telah mengidentifikasi secara spesifik jejak gas saraf yang membuat Skripal dan putrinya tak sadarkan diri. Namun Rowley enggan menyebut lebih lanjut jenis gas saraf itu, karena menjadi bagian penyelidikan yang masih berlangsung. Rowley juga menolak untuk menjelaskan secara rinci soal bagaimana cara gas saraf itu mengenai Skripal dan putrinya.

Rowley tidak membeberkan lebih jauh soal penyelidikan insiden ini. Namun sumber keamanan Amerika Serikat (AS) yang enggan disebut namanya, menyebut garis besar penyelidikan adalah Rusia diduga menggunakan gas saraf terhadap Skripal untuk membalas pengkhianatannya.

Diketahui bahwa Skripal ditangkap Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) pada tahun 2004 atas kecurigaan mengkhianati belasan agen intelijen Rusia dan membelot ke intelijen Inggris atau MI6. Dia divonis 13 tahun penjara dalam persidangan rahasia tahun 2006.


Tahun 2010, Skripal diampuni oleh Presiden Rusia saat itu, Dmitry Medvedev, sebagai bagian dari pertukaran mata-mata untuk memulangkan 10 agen Rusia yang ditahan Barat, terutama AS. Pertukaran mata-mata ini dilakukan di Bandara Wina, Austria. Usai ditukarkan, Skripal mendapat suaka dan tinggal di Inggris. Dia hidup diam-diam di Salisbury dan menjauhi sorotan.

Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson, sebelumnya memperingatkan Rusia bahwa respons tegas akan diberikan jika terbukti negara itu mendalangi insiden ini. Rusia telah menyangkal keterlibatannya dan menyebut komentar Johnson itu terlalu 'liar'.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed